Tugas resume “kode etik akuntan indonesia , kode etik intosai, dan perencanaan audit”

Nama : sri yuni abdullah

kelas : c

  1. A.    KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

Kode Etik Akuntan Indonesia mempunyai struktur seperti kode etik AICPA yang meliputi prinsip etika, aturan etika dan interpretasi aturan etika yang diikuti dengan tanya jawab dalam kaitannya dengan interpretasi aturan etika. Prinsip-prinsip etika dalam Kode Etik IAI ada 8 (delapan), yaitu:

  1. Tanggung Jawab

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap akuntan harus senantiasa mewujudkan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua kegiatan yang dilakukan.

  1. Kepentingan Umum (Publik)

Setiap akuntan harus menerima kewajiban untuk melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada profesional.

  1. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

  1. Obyektivitas

Setiap akuntan harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati – hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa auditan atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

  1. Kerahasiaan

Setiap akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

  1. Perilaku Profesional

Setiap akuntan harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

  1. Standar Teknis

Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan.

 

  1. B.     KODE ETIK INTOSAI

Kode etik INTOSAI terdiri dari:

  1. Integritas

Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan oleh auditor ketika memunculkan keunggulan personal ketika memberikan layanan professional kepada instansi tempat auditor bekerja dan kepada auditannya.

  1. Obyektivitas

INTOSAI menyatakan bahwa auditor tidak hanya bersifat independen terhadap auditan dan pihak lainnya, tetapi juga harus obyektif dalam menghadapi berbagai masalah yang direview. Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. Dalam mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh bertindak atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan, atau pengaruh dari pihak lain. Obyektivitas ini dipraktikkan ketika auditor mengambil keputusan-keputusan dalam kegiatan auditnya.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian

Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa instansi tempat ia bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan profesinya berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan, dan teknik-teknik yang terbaru.

  1. Kerahasiaan

Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya. Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial.

 

  1. C.    PERENCANAAN AUDIT

Dalam banyak literatur auditing, tahapan persiapan audit sering disamakan dengan tahapan perencanaan audit. Di sisi lain, beberapa literature auditing membedakan kedua tahapan ini. Tahapan persiapan audit berisi berbagai kegiatan berkenaan dengan penerimaan penugasan audit dan perolehan berbagai informasi yang diperlukan untuk mengembangkan perencanaan audit dan program audit secara menyeluruh. Suatu perencanaan audit yang baik akan mendukung auditor melaksanakan penugasan dengan efektif dan efisien. Informasi yang cukup mengenai penugasan akan membantu auditor dalam merencanakan pengujian dan prosedur audit lain yang sesuai.

Berdasarkan cakupan perencanaan, perencanaan audit dapat dikategorikan dalam dua kelompok utama perencanaan, perencanaan organisasi audit dan perencanaan penugasan audit. Perencanaan organisasi audit dapat dirinci menjadi dua jenis perencanaan, yaitu perencanaan jangka panjang, yang sering disebut sebagai rencana strategis, dan perencanaan jangka pendek yang biasanya dalam jangka waktu satu tahun, yang disebut perencanaan operasional. Perencanaan penugasan audit adalah perencanaan untuk setiap penugasan yang dilakukan oleh tim audit.

Lembaga audit harus memastikan bahwa lembaga ini memiliki sumber daya yang cukup untuk melayani para auditannya, baik saat ini maupun di masa depan, yang dituangkan dalam rencana operasional.

  1. Perencanaan Lembaga Audit

Lembaga audit sektor publik, baik internal maupun eksternal, umumnya memiliki tugas yang lebih luas daripada akuntan publik. Sifat praktik sektor public yang beragam mengharuskan suatu rencana strategis dirancang untuk menetapkan audit prioritas pada jangka menengah (satu sampai lima tahun). Dengan melakukan perencanaan strategis, pekerjaan-pekerjaan prioritas dapat ditetapkan. Sumber daya yang ada dan kebutuhan pelatihan sumber daya kemudian dapat dikombinasikan untuk menghasilkan input yang memadai untuk menghasilkan output audit yang diinginkan.

Lembaga audit dapat memberikan layanan-layanan kepada berbagai lembaga auditan. Untuk setiap auditan, lembaga audit mungkin memiliki berbagai tugas dan setiap tugas ini mungkin memerlukan beberapa penugasan audit individual. Rencana strategis mengorganisasikan berbagai penugasan berbeda ini ke dalam seperangkat penugasan yang koheren dan menghasilkan suatu kerangka kerja untuk layanan-layanan audit yang efektif dan efisien.

  1. Perencanaan Strategis untuk Setiap Auditan

Lembaga audit biasanya akan mengarahkan usahanya pada penugasan – penugasan yang akan mencakup semua bidang yang secara finansial signifikan dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh auditannya. Lembaga audit hanya akan berkonsentrasi pada bidang-bidang yang dianggap material. Selain itu, lembaga audit juga harus mempertimbangkan untuk memeriksa bidang-bidang yang memiliki risiko signifikan terjadinya salah saji keuangan, pengendalian intern yang buruk atau aktivitas yang tidak efisien dan efektif. Beberapa penugasan audit mungkin akan mencakup bidang-bidang yang memiliki risiko audit yang substansial dan juga material. Jelaslah bahwa lembaga audit harus mempertimbangkan semua kemungkinan penugasan pada satu auditan berdasarkan materialitas dan risikonya sebelum lembaga tersebut memutuskan tingkat kepentingan setiap penugasan secara relatif.

  1. Akuntabilitas

Semua tugas auditor pasti dikaitkan dengan peranan utamanya yaitu meningkatkan akuntabilitas. Berdasarkan pandangan ini, semua jenis audit, apakah itu audit keuangan, audit kinerja ataupun audit dengan tujuan tertentu, merupakan komponen-komponen yang penting dalam suatu peranan audit yaitu meningkatkan akuntabilitas.

  1. Penilaian Materialitas dan Risiko secara Obyektif dan Subyektif

Bila auditor memperoleh bukti-bukti yang diperlukan dengan menggunakan sampling statistik, seperti sampling unit moneter, maka pengukuran materialitas dan risiko dapat dilakukan dengan mudah. Dengan sampling unit moneter, jumlah pekerjaan audit yang diperlukan ditentukan oleh tiga variabel: tingkat kepercayaan (risiko), ukuran populasi dan materialitas. Hal ini akan dibahas secara rinci pada bab yang membahas tentang sampling statistik.

Sampling statistik dalam uji pengendalian intern tidak melibatkan sampling unit moneter. Dalam sampling ini, setiap pengendalian kunci yang rencana operasional. diuji dalam suatu organisasi dipandang sama pentingnya. Hal yang terpenting dalam sampling statistik uji pengendalian intern adalah pengendalian – pengendalian mana yang akan diuji. Keputusan-keputusan ini umumnya didasarkan pada materialitas dari bidang-bidang yang dikendalikan oleh pengendalian-pengendalian tersebut. Oleh karena itu, perencanaan strategis untuk pengujian pengendalian perlu ditentukan bersamaan dengan penentuan perencanaan pekerjaan sampling unit moneter.

Daftar faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penilaian risiko secara subyektif:

1)      Nilai moneter dari transaksi-transaksi yang diaudit.

2)      Terjadinya kesalahan-kesalahan dan kerugian-kerugian di masa lalu.

3)      Sistem-sistem lain atau angka-angka lain yang terpengaruh.

4)      Sensitivitas setiap kesalahan atau kerugian terhadap manajemen atau politisi.

5)      Adanya kekurangan staf.

6)      Perubahan-perubahan dalam sistem utama atau dalam personil kunci.

7)      Penilaian risiko dari manajemen auditan.

 

3. Perencanaan Strategis dalam Audit Kinerja

Perencanaan strategis menjadi sangat penting dalam perencanaan audit kinerja, terutama dalam pemilihan bidang-bidang yang akan diaudit. Audit kinerja memiliki karakteristik di mana kriteria yang digunakan tidak memiliki definisi yang absolut. Analisis dan penilaian atas berbagai pengamatan harus dilakukan secara kasus per kasus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang dapat bernuansa politis. Hal inilah yang menyebabkan perencanaan audit kinerja harus dilakukan secara menyeluruh dalam bentuk perencanaan strategis.

Perencanaan strategis dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1)        Penetapan bidang-bidang yang secara potensial merupakan bidang audit yang akan dipilih secara strategis.

2)        Penetapan kriteria yang akan digunakan untuk memilih bidang-bidang yang akan diaudit.

3)        Identifikasi sumber-sumber informasi utama untuk audit terhadap lembaga/bidang yang terpilih.

  1. Perencanaan Operasional Suatu Lembaga Audit

Suatu perencanaan operasional suatu lembaga audit terdiri dari dua komponen utama, yaitu layanan audit yang diberikan dan sumber daya yang tersedia. Layanan audit yang diberikan adalah layanan yang akan disediakan pada setiap tahun anggaran, yang meliputi aspek-aspek apa yang akan diaudit dan jenis-jenis audit yang akan dilaksanakan. Sumber daya yang tersedia berkaitan dengan jumlah staf dan kemampuan mereka. Sumber daya staf biasanya adalah faktor yang terbatas dalam suatu audit. Tidak ada sumber daya kunci lain yang membatasi layanan diberikan kepada auditan. Dalam pembahasan ini diasumsikan bahwa rencana operasional dilakukan untuk organisasi auditan yang selama ini dilayani. Sumber daya yang tersedia adalah staf saat ini ditambah kemungkinan pegawai baru, dikurangi pegawai yang pensiun.

Sebelum awal tahun anggaran, lembaga audit perlu membuat suatu kalender untuk setiap staf yang ada dan staf yang mungkin ada yang menunjukkan waktu diklat, libur nasional (cuti bersama) dan cuti. Bila perhitungan memerlukan estimasi, terutama untuk kehilangan waktu karena cuti sakit atau hal-hal lain, estimasi yang paling realistis harus dibuat berdasarkan pengalaman di masa lalu. Kalender ini memiliki dua tujuan utama:

1)      Menghasilkan estimasi yang seakurat mungkin jumlah jam-staf yang dapat digunakan.

2)      Hilangnya waktu dapat dilihat dengan segera.

 

Perencanaan operasional biasanya didokumentasikan dalam suatu dokumen perencanaan yang bertujuan memberikan arahan prioritas audit dan cakupan audit. Dokumen ini berisi program kerja yang telah disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya, terutama sumber daya manusia (staf). Penentuan prioritas oleh suatu lembaga audit biasanya didasarkan pada suatu kebijakan pada sektor publik, baik prioritas nasional/lokal, kebijakan pembangunan, anggaran negara/daerah, peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara dan berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Perencanaan operasional lembaga audit pada umumnya terdiri dari rencana kerja tahunan dan rencana kerja audit. Rencana kerja tahunan biasanya berisi kebijakan-kebijakan audit yang dipilih untuk satu tahun anggaran. Rencana ini menjelaskan tujuan, aktivitas, dan sumber daya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan. Rencana kerja audit berisi informasi mengenai entitas-entitas yang akan diaudit, auditor-auditor yang ditugaskan, orang hari atau durasi audit dan biaya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang tertera dalam rencana kerja tahunan.

Perencanaan yang baik memungkinkan lembaga audit untuk mengelola ketersediaan sumber daya pengaman ini.

  1. Perencanaan Penugasan Audit dan Manfaatnya

Arens dan Loebbecke menyatakan bahwa alasan mengapa auditor harus merencanakan penugasan dengan sebaik-baiknya adalah untuk memampukan auditor mendapatkan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk setiap situasi yang dihadapi, untuk menekan biaya audit sampai pada jumlah yang sepantasnya, dan menghindarkan terjadinya kesalahpahaman dengan auditan. Alasan-alasan ini juga yang menjadi pertimbangan auditor sector publik untuk melakukan persiapan dan perencanaan audit. Auditor sektorpublik memerlukan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk mendukung laporan audit. Mereka menghadapi kendala waktu dan anggaran yang disediakan untuk melakukan audit. Contohnya, audit laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan BPK dalam dua bulan. Informasi yang cukup tentang auditan yang dikumpulkan dalam perencanaan audit akan membantu auditor memahami penugasan dan auditan dan membantunya memiliki komunikasi yang baik dengan auditan, dan karenanya menghindari kesalahpahaman dengan auditan.

Dengan demikian, beberapa manfaat yang diperoleh auditor jika perencanaan audit dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu:

1)      Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup

2)      Membantu menentukan sumber daya yang diperlukan dan biaya audit

3)      Menentukan prioritas

4)      Meningkatkan disiplin dalam penyelesaian proses audit

5)      Membangun saling pengertian dengan auditan

 

Audit dengan perencanaan yang baik akan mengantisipasikan beberapa hal berikut:

a)      Berbagai jenis audit, karakteristik auditan dan penugasan staf yang kompeten

b)      Arah dan pengendalian audit

c)      Aspek-aspek kritis

d)     Jangka waktu penyelesaian.

 

Di samping manfaat, ada beberapa hambatan dalam perencanaan audit yang harus dihindarkan oleh auditor:

a)      Perencanaan audit terlalu rumit dan tidak efisien

Perencanaan audit dapat menjadi rumit jika sebagian besar waktu dialokasikan untuk melengkapi kertas kerja secara detail dan hanya sedikit alokasi waktu untuk prosedur audit yang sebenarnya.

b)     Perencanaan audit yang kaku

Perencanaan audit yang tidak fleksibel akan membuat auditor melanggar rencana audit yang telah ditetapkan. Kegagalan dalam melaksanakan audit sesuai rencana berisiko menghilangkan semua manfaat yang bisa didapat dari perencanaan audit.

Perencanaan yang baik atas penugasan audit akan membantu memastikan bahwa setiap bidang-bidang penting yang diaudit telah memperoleh perhatian selayaknya, masalah-masalah penting telah diidentifikasi dan pekerjaan audit dapat diselesaikan dengan cara yang paling cepat. Perencanaan juga membantu dalam melakukan pembagian kerja kepada asisten dan dalam melakukan koordinasi pekerjaan dengan auditor lain atau tenaga ahli.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: