Tugas 3 Resume Perilaku Audit

NAMA         : RITAWATI MAHMUD

NIM            : 921 410 228

KELAS       : C (SEMESTER VI)

TUGAS       : REVIEW MATERI ASPEK KEPERILAKUAN PADA AUDIT

MK              : AUDITING SEKTOR PUBLIK

 

 

“ASPEK KEPERILAKUAN PADA AUDIT”

Audit pada saat ini telah menjadi bagian penting dalam dunia akuntansi, khususnya aspek-aspek yang terkait dengan proses pengambilan keputusan dan aktivitas-aktivitas auditor dalam mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan. Terdapat banyak hal yang dapat dipertimbangkan sebagai data pendukung dalam pengambilan keputusan yang mengarah pada aspek keperilakuan auditor. Menurut siegel dan Marconi (1989) seharusnya auditor terlepas dari fakto-faktor personalitas dalam melakukan audit. Personalitas akan bisa menyebabkan kegagalan audit sekaligus membawa resiko yang tinggi bagi auditor. Untuk itu risiko inheren dalam audit harus diperhitungkan dengan baik. Ada dua tipe yang dihadapi oleh auditor;

  1. Auditor dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap lingkungan audit.
  2. Auditor harus menyelaraskan dan sinergi dalam pekerjaan kelompok, sehingga perlu ada proses riview di dalamnya. Interaksi ini akan banyak menimbulkan proses keperilakuan dan sosial.

Dalam lingkungan yang kompetitif, kantor akuntan publik (KAP) harus secara teratur memonitor praktik-praktik terbaik yang menjamin profesionalisme karyawan secara efektif dan efisien. Penempatan staf yang cocok dalan tim audit menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Tim adalah kelompok. Banyak pertimbangan audit yang dibuat oleh kelompok,sebagaimana halnya individu. Interaksi kelompok merupakan fungsi dari preferensi individu yang ada di dalamnya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa audit internal mengevaluasi aktivitas yang dilakukan oleh orang – orang dan dengan demikian terdapat hubungan pribadi antara orang yang melakukan evaluasi dengan orang yang dievaluasi dan dengan para auditor. Hubungan antara dua kelompok yang menjadi subjek konflik atau subjek sinerji saling berkaitan. Audit internal seharusnya menguasai hubungan interpersonal dalam menawarkan penilaian terhadap keduanya dalam usaha audit. Oleh karena itu, sejumlah aktivitas interpersonal yang dapat menilai hubungan positif dan dapat diharapkan untuk berhasil dalam praktik audit internal.

  1. Memotivasi Pihak Yang Diaudit

Motivasi merupakan alat bantu keperilakuan terbesar bagi audit internal. Dalam teori motivasi, dikenal dengan lima kebutuhan pokok Maslow. Dua dari kebutuhan pokok tersebut adalah keinginan untuk menjadi bagian dari organisasi dan kebutuhan untuk diterima dan dikenal, sehingga dapat melayani auditor internal secara baik.

  1. Hubungan dengan Gaya Manajemen

Terdapat empat gaya manajemen (kepemimpinan) secara umum. Keempat gaya manajemen tersebut yaitu :

  1. Gaya mengarahkan

Gaya mengarahkan berarti pemimpin memberikan intruksi spesifik dan mengawasi penyelesaian pekerjaan dari dekat.

  1. Gaya melatih

Gaya melatih berarti pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan dan mengawasi penyelesaian tugas dari dekat, tetapi juga menjelaskan keputusan, menawarkan saran, dan mendukung kemajuan bawahannya.

  1.  Gaya mendukung

Gaya mendukung berarti pemimpin memudahkan dan mendukung upaya bawahan untuk penyelesaian tugas serta berbagi tanggung jawab dalam pembuatan keputusan dengan bawahan.

  1. Gaya mendelegasikan

Gaya mendelegasikan berarti pemimpin menyerahkan tanggung jawab pembuatan keputusan dan pemecahan masalah kepada bawahan secara relative utuh.

Dari keempat gaya tersebut, gaya pertama dan gaya terakhir merupakan yang terpenting untuk didiskusikan. Pada gaya pertama, aturan – aturan manajemen dipatuhi secara sangat ketat. Auditor seharusnya tidak membuat ikatan – ikatan dengan staf tanpa persetujuan manajemen.

Auditor seharusnya mencoba untuk bekerja sama dengan seluruh manajemen dalam proses audit. Hubungan yang akrab dan berulang dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa auditor berada di pihak mereka.

  1. C.     Perubahan Manajemen

Salah satu masalah terbesar yang dimiliki oleh auditor adalah “menjual” perubahan – perubahan yang akan dijalankan melalui implementasi dan temuan audit. Ilmu social telah mengidentifikasikan sejumlah alas an mengapa orang tidak menginginkan perubahan metode operasi mereka. Ada tiga hal yang mungkin merupakan faktor terpenting yang menimbulkan keengganan untuk melakukan perubahan :

1)        Ketakutan terhadap apa yang tidak diketahui, yaitu apa yang akan dibawa oleh perubahan tersebut.

2)        Aspek birokrasi dari kenyataan perubahan, baik secara horizontal maupun vertical.

3)        Aspek ego, dengan adanya perubahan, maka metode sekarang dianggap tidak efisien atau tidak layak.

Oleh sebab itu auditor seharusnya mengambil tindakan pasti untuk menghilangkan ketakutan atau pertentangan dari pihak yang diaudit.

  1. Pengelolaan Konflik

Dalam bidang akuntansi, konflik dapat terjadi antara auditor yang cenderung mempertahakan profesionalismenya dan pihak yang diaudit yang cenderung mempertahankan lembaga atau keinginannya. Dapat disimpulkan bahwa ketika seorang auditor bekerja pada suatu lembaga bisnis professional, yang dikelilingi oleh suatu birokrasi, konflik dan hilangnya nilai – nilai serta norma – norma profesionalisme akan muncul. Di pihhak lain, sikap dan keyakinan yang berkaitan dengan lingkungan anggota seprofesi sering kali dibentuk oleh kondisi birokrasi.oleh karena itu, sikap yang dimunculkan oleh satu atau beberapa orang professional yang mempertahankan nilai – nilai profesionalismenya akan cenderung menjadi pemicu konflik.

Konflik akan muncul ketika di dalam organisasi bisnis profesional terdapat sebagian orang yang memegang teguh nilai –nilai profesionalismenya, sementara sebagian lainnya tidak bahkancenderung untuk menghilangkan nilai – nilai tersebut.

  1. Masalah – Masalah Konflik

Brink dan Witt (1982) mempunyai daftar konsep yang akan membantu untuk memperlakukan  orang dengan lebih baik. Konsep – konsep tersebut merupakan perilaku langsung dan kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk semua hubungan singkat perusahaan. Konsep tersebut meliputi :

  1. Terdapat variasi umum dalam kemampuan dan sifat – sifat dasar individu.
  2. Pengaruh terbesar terhadap perasaan – perasaan dan emosi seharusnya juga dipertimbangkan. Auditor seharusnya mengidentifikasi keberagaman peranan dan mencoba menangani hal tersebut secara efektif.
  3. Keragaman persepsi seharusnya juga dipertimbangkan. Staf pihak yang diaudit tidak memandang dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh stf audit.
  4. Ukuran kelompok pihak yang diaudit dapat berpengaruh pada hubungan. Variasi dari apa yang disebut sebagai kelompok dinamis menghasruskan auditor untuk memodifikasi pendekatan secara teknis ketika melakukannya dengan kelompok yang lebih luas.
  5. Pengaruh dari berbagai situasi operasional sebagi suatu variasi akhir. Setiap perubahan situasi mempengaruhi perasaan dan tindakan seseorang.
  6. Karakteristik Khusus Individu

Brink dan Witt (1982) juga telah membuat suatudaftar mengenai karakteristik kelompok individu dari orang-orang yang beradadalam berbagai tingkatan. Auditor seharusnya mempertimbangkan hal tersebut karena hal ituberpengaruh terhadap kepribadian,sikap,dan aktivitas. Pengetahuan dan pertimbangan atas perbedaan inidapat membantu untuk memastikan hubungan yang lebih harmonis.

  1. Kesadaran pada diri sendiri

Dalam suatu situasi dimana terdapat banyak hubungan interpersonal sebagaimana yang terdapat didalam audit internal, merupakan hal penting untuk menyadari dan memegang teguh keseimbangan serta untuk memandabg diri sendiri sebagaimana orang lain memandangnya (Ratclff et al,1988).

  1. Komunikasi secara Efektif

Komunikasi ini terdiri atas wawancara, musyawarah, laporan lisan, laporan tertulis. Perintah seorang auditor dengan menggunakan komunikasi yang efektif merupakan cara yang positif untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dalam menjalankan audit.

  1. Penggunaan Pengetahuan Keperilakuan dalam Audit

Secara umum penanganan keperilakuan organisasi adalah akibat dari berbagai hal berikut ;

  1. Kondisi, pada umumnya kualitas dri struktur pengendalian internal.
  2. Motivasi atau kebutuhan dari karyawan kantor untuk membentuk etika dan kejujuran.
  3. Sikap atas dasar karakteristik pribadi dari seluruh tingkatan karyawan.

Selain masalah perilaku pihak yang diaudit, auditor internal juga perlu memahami budaya organisasi. Porter et al (1985) dikatakan bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku auditor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: