tugas review 1 ( perilaku manusia dalam keputusan audit)

Nama  : Fidyawati Rahim

NIM    : 921 410 172

Kelas   : C S1 Akuntansi

 

“PERILAKU MANUSIA DALAM KEPUTUSAN AUDIT”

 

Memotivasi Pihak Yang Diaudit

Motivasi merupakan alat bantu keperilakuan terbesar bagi audit internal. Dalam teori motivasi, dikenal dengan lima kebutuhan pokok Maslow. Dua dari kebutuhan pokok tersebut adalah keinginan untuk menjadi bagian dari organisasi dan kebutuhan untuk diterima dan dikenal, sehingga dapat melayani auditor internal secara baik.

  1. Kebutuhan Menjadi Bagian dari Organisasi

Bagian audit merupakan bagian dari keseluruhan organisasi yang berdedikasi untuk memperbaiki operasi organisasi tersebut. Pihak yang diaudit dapat dijanjikan bahwa pendapat mereka akan diterima dan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam pertimbangan keseluruhan manajemen guna memperbaiki kondisi operasi organisasi.

  1. Menghormati Diri Sendiri dan Orang Lain

Kebutuhan akan rasa hormat ini dapat dikaitkan dengan keyakinan pihak yang diaudit untuk bertindak langsung dalam kerja sama dengan staf audit untuk mengidentifikasikan bidang – bidang yang bermasalah, membantu dalam investigasi terhadap kinerja, serta mengembangkan tindakan – tindakan korektif. Aspek terpenting disini adalah auditor mengidentifikasikan tindakan – tindakan pihak yang diaudit secara langsung sebagai bagian dari usaha audit.

Hubungan dengan Gaya Manajemen

Terdapat empat gaya manajemen (kepemimpinan) secara umum. Keempat gaya manajemen tersebut yaitu :

  1. Gaya mengarahkan

Gaya mengarahkan berarti pemimpin memberikan intruksi spesifik dan mengawasi penyelesaian pekerjaan dari dekat.

  1. Gaya melatih

Gaya melatih berarti pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan dan mengawasi penyelesaian tugas dari dekat, tetapi juga menjelaskan keputusan, menawarkan saran, dan mendukung kemajuan bawahannya.

  1. Gaya mendukung

Gaya mendukung berarti pemimpin memudahkan dan mendukung upaya bawahan untuk penyelesaian tugas serta berbagi tanggung jawab dalam pembuatan keputusan dengan bawahan.

  1. Gaya mendelegasikan

Gaya mendelegasikan berarti pemimpin menyerahkan tanggung jawab pembuatan keputusan dan pemecahan masalah kepada bawahan secara relative utuh.

Masing – masing gaya manajemen tersebut mempunyai perbedaan yang luas dan semuanya mencerminkan filosofi serta pendekatan manajemen terhadap para manajer. Menggunakan suatu pendekatan audit yang konflik dengan filosofi manajemen dari manajemen pihak yang diaudit akan menyebabkan audit menjadi tidak popular dan menimbulkan kesulitan – kesulitan dalam perolehan bantuan serta kerja sama secara sukarela.

 

Perubahan Manajemen

Salah satu masalah terbesar yang dimiliki oleh auditor adalah “menjual” perubahan – perubahan yang akan dijalankan melalui implementasi dan temuan audit. Ilmu social telah mengidentifikasikan sejumlah alas an mengapa orang tidak menginginkan perubahan metode operasi mereka. Ada tiga hal yang mungkin merupakan faktor terpenting yang menimbulkan keengganan untuk melakukan perubahan :

  1. Ketakutan terhadap apa yang tidak diketahui, yaitu apa yang akan dibawa oleh perubahan tersebut.
  2. Aspek birokrasi dari kenyataan perubahan, baik secara horizontal maupun vertical.
  3. Aspek ego, dengan adanya perubahan, maka metode sekarang dianggap tidak efisien atau tidak layak.

Dengan demikian pihak yang diaudit mampu membantu dalam mendesain perubahan sebagaimana mereka mempengaruhi hubungan internal, baik secara vertical maupun horizontal. Terkait dengan masalah ini, beberapa pendekatan yang dapat diambil antara lain meliputi:

1)      Auditor internal seharusnya melihat perubahan audit dengan cara pandang manajer.

2)      Konsep auditor terhadap pengendalian seharusnya sejauh mungkin menyerupai konsep – konsep manajemen.

3)      Auditor seharusnya mengutamakan suatu pendekatan partisifatif.

4)      Auditor seharusnya menjadi suatu audit yang seimbang, tidak sebagai suatu yang menghakimi.

5)      Auditor seharusnya melengkapi kegagalan dari suatu pendekatan manajemen.

6)      Auditor internal seharusnya mencoba untuk bertindak sebagai seorang penasihat dan bukan sebagai seorang kebijakan.

Pengelolaan Konflik

Konflik adalah suatu karakteristik yang kerap kali terjadi pada proses audit (Chambers at al., 1987). Konflik sering kali membantu pencapaian tujuan audit, tetapi jika tidak ditangani lebih awal, maka konflik akan menjadi lebih tajam dan luas. Konflik dapat terjaadi dalam hal – hal seperti berikut :

  1. Lingkup seperti terhadap manajemen.
  2. Tujuan sebagaimana terhadap auditor eksternal.
  3. Tanggung jawab seperti layanan manajemen.
  4. Nilai dominasi atau persepsi terhadap peran audit dari kacamata pihak yang diaudit.

Dalam bidang akuntansi, konflik dapat terjadi antara auditor yang cenderung mempertahakan profesionalismenya dan pihak yang diaudit yang cenderung mempertahankan lembaga atau keinginannya.

Aranya dan Ferris (1984) telah melakukan survey terhadap auditor dan dapat kesimpulan menyatakan bahwa:

  1. Konflik yang terjadi pada organisasi profesi akuntan lebih tinggi dibandingkan dengan konflik yang terjadi pada akuntan yang bekerja dilingkungan organisasi bisnis bukan profesi.
  2. Dalam organisasi professional, tingkat konflik yang diterima berbanding terbalik dengan posisi individu dalam suatu birokrasi.
  3. Persepsi konflik berhubungan secara negative dengan kepuasan kerja dan berhubungan secara positif dengan kecenderungan untuk berpindah kerja.

Konflik akan muncul ketika di dalam organisasi bisnis profesional terdapat sebagian orang yang memegang teguh nilai –nilai profesionalismenya, sementara sebagian lainnya tidak bahkancenderung untuk menghilangkan nilai – nilai tersebut. Ada empat metode khusus  yang secara umum digunakan untuk menyelesaikan konflik:

1)      Arbitrasi

2)      Mediasi

3)      Kompromi

4)      Langsung

Keempat metode tersebut mencoba untuk mencapai suatu posisi yang dianggap adalah yang terbaik bagi organisasi. Metode tersbut tidak selalu mencoba untuk meredakan perasaan dari masing – masing kelompok yang mengalami konflik. Metode yang terbaik dan paling sering digunakan dalam pendekatan keperilakuan adalah metode kompromi, jika perbedaan masih dapat di kompromikan.

 

Masalah – Masalah Konflik

Brink dan Witt (1982) mempunyai daftar konsep yang akan membantu untuk memperlakukan  orang dengan lebih baik. Konsep – konsep tersebut merupakan perilaku langsung dan kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk semua hubungan singkat perusahaan. Konsep tersebut meliputi :

  1. Terdapat variasi umum dalam kemampuan dan sifat – sifat dasar individu.
  2. Pengaruh terbesar terhadap perasaan – perasaan dan emosi seharusnya juga dipertimbangkan.
  3. Keragaman persepsi seharusnya juga dipertimbangkan. Staf pihak yang diaudit tidak memandang dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh staf audit.
  4. Ukuran kelompok pihak yang diaudit dapat berpengaruh pada hubungan.
  5. Pengaruh dari berbagai situasi operasional sebagi suatu variasi akhir.

 

Karakteristik Umum Individu

Brink dan Witt (1982) juga telah membuat suatudaftar mengenai karakteristik kelompok individu dari orang-orang yang beradadalam berbagai tingkatan. Auditor seharusnya mempertimbangkan hal tersebut karena hal ituberpengaruh terhadap kepribadian,sikap,dan aktivitas.

Pada umumnya sifat yang muncul pada berbagai tingkatan dalam setiap individudari pihak yang diaudit meliputi :

  1. Menjadi Produktif, sibuk padapekerjaan-pekerjaan yang bermakn.
  2. Mempunyai dorongan kearah dedikasi terhadap suatuusaha yang dianggap penting.
  3. Mempunyai keinginan untuk melayani dan memberikan bantuan kepada individu lain.
  4. Bebas ubtukmemilihguna mendapatkan indenpendensi dan kebebasan pilihan.
  5. Memiliki sifat yang adil dan jujur.
  6. Memiliki bias pada diri sendiri,tercermin pada sikap yang lebih suka dipuji dibandingkan dengan kritik.
  7. Mencari kepuasan diri sendiri.
  8. Memiliki  nilai untukmendapatkan imbalan atas usahanya.
  9. Bersikap seperti orang-orang yang patuh dan dapat beradaptasi secara baik.
  10. Menjadi bagian tim yang sukses.
  11. Memiliki rasa haru atas bencana yang menimpa orang lain.
  12. Memiliki keterkaitan pada pemaksimalan kepuasan diri sendiri.
  13. Lebih cenderung untuk sensitive dibandingkandengan membantu orang.

 

Kesadaran pada diri sendiri

Dalam suatu situasi dimana terdapat banyak hubungan interpersonal sebagaimana yang terdapat didalam audit internal, merupakan hal penting untuk menyadari dan memegang teguh keseimbangan serta untuk memandabg diri sendiri sebagaimana orang lain memandangnya (Ratclff et al,1988). Beberapa elemen utama dari aspek yang terpenting kondisi ini adalah:

  1. Adanya pengetahuan terhadap kekuatan dan kelemahan orang lain dalam berhubungan secara mental ,fisik dan karakterisrik pribadi.
  2. Rasa memiliki terhadap produktivitas dan kepuasan kelompok kerja.
  3. Kesadaran terhadap perintah dasar dalamlingkungan relative yang dimilki seseorang dimana orang tersebut harus menyesuaikan diri dengan kelompok organisasi yang luas.
  4. Suatu keinginan untuk melayani kebutuhan- kebutuhan orang lain
  5. Suatu perasaan memiliki atas produktivitas yang didasarkan pada ego seseorang.
  6. Suatu perasaan keterpaduan yangberasal dari kepercayaan bahwa seseorang berpartisipasi dalam suatu lingkungan secara etis.

Komunikasi secara Efektif

Komunikasi ini terdiri atas wawancara, musyawarah, laporan lisan, laporan tertulis. Perintah seorang auditor dengan menggunakan komunikasi yang efektif merupakan cara yang positif untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dalam menjalankan audit.

 

Menghadapi banyaknya Oposisi

Terdapat tiga jenis pokok dari banyaknya oposisi :

  1. Suatu indikasi yang menunjukan kurang pentingnya audit
  2. Pihak yangdiaudit bertindak dalam suatu gaya konfrontasional
  3. Pihak yang diaudit menolak untuk mengambil berbagai tindakan selama atau secara audit.

 

Pelaksanaan Audit Partisipatif

Telah menjadi suatu hal yang umum dalam audit bahwa inti dari kinerja audit yang baik berasal daripendekatan keprilakuan. Elemen keprilakuan tersebut meliputi:

  1. Pada awal audit, tanyakan pada pihak yang diadit bidang mana yang akan diaudit.
  2. Bangun suatu pendekatan kerja sama dengan staf pihak yang diaudit dalam menilai Pemrogram audit dan Pelaksanaan audit
  3. Perolehan persetujuan dan rekomendasi untuk tindakan koreksi
  4. Dapatkan persetujuan atas isi laporan
  5. Memasukan informasi nyata pada laporan audit. Partisipasi didalam audit membantu memecahkan berbagai permasalahan dan mengordinasikan tindakan korektif.Seluruh keberhasilan diatas tergantung pada kredibilitas auditor atas kekejujuran.

 

 Penggunaan Pengetahuan Keperilakuan dalam Audit

Secara umum penanganan keperilakuan organisasi adalah akibat dari berbagai hal berikut

  1. Kondisi, pada umumnya kualitas dri struktur pengendalian internal.
  2. Motivasi atau kebutuhan dari karyawan kantor untuk membentuk etika dan kejujuran.
  3. Sikap atas dasar karakteristik pribadi dari seluruh tingkatan karyawan.

Diasumsikan bahwa para auditor internal dalam setiap pekerjaannya selalu berhubungan dengan karyawan – karyawan yang ada diorganisasi. Kedekatan ini menghasilkan posisi evaluative yang memungkinkan karyawan untuk menerima atau menolak auditor, di mana hal tersebut akan berdampak pada tingkat kebebasan auditor.

Selain masalah perilaku pihak yang diaudit, auditor internal juga perlu memahami budaya organisasi. Porter et al (1985) dikatakan bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku auditor. Untuk budaya organisasi, unsure – unsure tercermin, antara lain :

1)      Komitmen karyawan

2)      Kualitas pelatihan dan Pengembangan staf

3)      Identitas perusahaan seperti kebijakan.

4)      Pembuatan keputusan,dan.

5)      Fokus manajemen.

Oleh karena itu,  suatu audit tidak akan menjadi kontradiktif ketika laporan audit dapat diterima dan di implementasikan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: