TUGAS REVIEW 1 (PERILAKU MANUSIA DALAM KEPUTUSAN AUDIT)

NAMA           : FATRISYA PONGOLIU

NIM                : 921410219

KELAS          : C/ ASP

 

PERILAKU MANUSIA DALAM KEPUTUSAN AUDIT

 

1. Memotivasi Pihak Yang Diaudit

Motivasi merupakan alat bantu keperilakuan terbesar bagi audit internal. Dalam teori motivasi, dikenal dengan lima kebutuhan pokok Maslow. Dua dari kebutuhan pokok tersebut adalah keinginan untuk menjadi bagian dari organisasi dan kebutuhan untuk diterima dan dikenal, sehingga dapat melayani auditor internal secara baik.

  1. Kebutuhan Menjadi Bagian dari Organisasi

Bagian audit merupakan bagian dari keseluruhan organisasi yang berdedikasi untuk memperbaiki operasi organisasi tersebut. Pihak yang diaudit dapat dijanjikan bahwa pendapat mereka akan diterima dan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam pertimbangan keseluruhan manajemen guna memperbaiki kondisi operasi organisasi. Para auditor diminta untuk mendekati pihak yang diaudit dengan bahasa yang memperkuat kebutuhan ini dan potensi penyelesaian serta dengan mempercayai pihak yang diaudit untuk membantu atau mengambil bagian atas pencapaian tujuan dari pekerjaan audit sekarang.

  1. Menghormati Diri Sendiri dan Orang Lain

Aspek terpenting disini adalah auditor mengidentifikasikan tindakan – tindakan pihak yang diaudit secara langsung sebagai bagian dari usaha audit. Pihak yang diaudit biasanya akan menerima rasa hormat dan respons manajemen melalui penerapan audit yang merupakan bagian dari manajemen yang berpengaruh dalam melakukan perbaikan operasional manajemen.

 

2. Hubungan dengan Gaya Manajemen

Terdapat empat gaya manajemen (kepemimpinan) secara umum, yaitu :

 

 

  1. Gaya mengarahkan

Gaya mengarahkan berarti pemimpin memberikan intruksi spesifik dan mengawasi penyelesaian pekerjaan dari dekat.

  1. Gaya melatih

Gaya melatih berarti pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan dan mengawasi penyelesaian tugas dari dekat, tetapi juga menjelaskan keputusan, menawarkan saran, dan mendukung kemajuan bawahannya.

  1. Gaya mendukung

Gaya mendukung berarti pemimpin memudahkan dan mendukung upaya bawahan untuk penyelesaian tugas serta berbagi tanggung jawab dalam pembuatan keputusan dengan bawahan.

  1. Gaya mendelegasikan

Gaya mendelegasikan berarti pemimpin menyerahkan tanggung jawab pembuatan keputusan dan pemecahan masalah kepada bawahan secara relative utuh.

Dari keempat gaya tersebut, gaya pertama dan gaya terakhir merupakan yang terpenting untuk didiskusikan. Pada gaya pertama, aturan – aturan manajemen dipatuhi secara sangat ketat. Sebagaimana dengan gaya mendelegasikan, auditor seharusnya mengambil pendekatan bahwa mereka merupakan bagian dari tim manajemen dan bertindak sebagai rekan kerja atau konsultan.

 

3. Perubahan Manajemen

Ada tiga hal yang mungkin merupakan faktor terpenting yang menimbulkan keengganan untuk melakukan perubahan :

  1. Ketakutan terhadap apa yang tidak diketahui, yaitu apa yang akan dibawa oleh perubahan tersebut.
  2. Aspek birokrasi dari kenyataan perubahan, baik secara horizontal maupun vertical.
  3. Aspek ego, dengan adanya perubahan, maka metode sekarang dianggap tidak efisien atau tidak layak.

Oleh sebab itu auditor seharusnya mengambil tindakan pasti untuk menghilangkan ketakutan atau pertentangan dari pihak yang diaudit. Dalam kasus ketakutan dari ketidaktahuan, auditor seharusnya berhati-hati dalam menelaah kemungkinan dari pihak yang diaudit untuk menghasilkan perubahan, baik berdampak bagus maupun yang tidak begitu bagus. Pihak yang diaudit seharusnya diberitahu mengenai metodologi atau penyelesaian yang dapat digunakan dan secara aktif menasihati mencari tahu mengenai metode – metode yang direkomendasikan.

 

4. Pengelolaan Konflik

Konflik adalah suatu karakteristik yang kerap kali terjadi pada proses audit (Chambers at al., 1987). Konflik sering kali membantu pencapaian tujuan audit, tetapi jika tidak ditangani lebih awal, maka konflik akan menjadi lebih tajam dan luas. Konflik dapat terjaadi dalam hal – hal seperti berikut :

  1. Lingkup seperti terhadap manajemen.
  2. Tujuan sebagaimana terhadap auditor eksternal.
  3. Tanggung jawab seperti layanan manajemen.
  4. Nilai dominasi atau persepsi terhadap peran audit dari kacamata pihak yang diaudit.

Dalam bidang akuntansi, konflik dapat terjadi antara auditor yang cenderung mempertahakan profesionalismenya dan pihak yang diaudit yang cenderung mempertahankan lembaga atau keinginannya. Dapat disimpulkan bahwa ketika seorang auditor bekerja pada suatu lembaga bisnis professional, yang dikelilingi oleh suatu birokrasi, konflik dan hilangnya nilai – nilai serta norma – norma profesionalisme akan muncul. Di pihak lain, sikap dan keyakinan yang berkaitan dengan lingkungan anggota seprofesi sering kali dibentuk oleh kondisi birokrasi.oleh karena itu, sikap yang dimunculkan oleh satu atau beberapa orang professional yang mempertahankan nilai – nilai profesionalismenya akan cenderung menjadi pemicu konflik.

Konflik akan muncul ketika di dalam organisasi bisnis profesional terdapat sebagian orang yang memegang teguh nilai –nilai profesionalismenya, sementara sebagian lainnya tidak bahkancenderung untuk menghilangkan nilai – nilai tersebut. Ada empat metode khusus  yang secara umum digunakan untuk menyelesaikan konflik:

1)      Arbitrasi

2)      Mediasi

3)      Kompromi

4)      Langsung

5. Masalah – Masalah Konflik

Brink dan Witt (1982) mempunyai daftar konsep yang akan membantu untuk memperlakukan  orang dengan lebih baik. Konsep – konsep tersebut merupakan perilaku langsung dan kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk semua hubungan singkat perusahaan. Konsep tersebut meliputi :

  1. Terdapat variasi umum dalam kemampuan dan sifat – sifat dasar individu.
  2. Pengaruh terbesar terhadap perasaan – perasaan dan emosi seharusnya juga dipertimbangkan.
  3. Keragaman persepsi seharusnya juga dipertimbangkan.
  4. Ukuran kelompok pihak yang diaudit dapat berpengaruh pada hubungan.
  5. Pengaruh dari berbagai situasi operasional sebagi suatu variasi akhir.

6. Karakteristik Umum Individu

Brink dan Witt (1982) juga telah membuat suatu daftar mengenai karakteristik kelompok individu dari orang-orang yang berada dalam berbagai tingkatan. Auditor seharusnya mempertimbangkan hal tersebut karena hal itu berpengaruh terhadap kepribadian,sikap,dan aktivitas. Pengetahuan dan pertimbangan atas perbedaan inidapat membantu untuk memastikan hubungan yang lebih harmonis.

 

7. Kesadaran pada diri sendiri

Dalam suatu situasi dimana terdapat banyak hubungan interpersonal sebagaimana yang terdapat didalam audit internal, merupakan hal penting untuk menyadari dan memegang teguh keseimbangan serta untuk memandabg diri sendiri sebagaimana orang lain memandangnya (Ratclff et al,1988).

 

8. Komunikasi secara Efektif

Komunikasi ini terdiri atas wawancara, musyawarah, laporan lisan, laporan tertulis. Perintah seorang auditor dengan menggunakan komunikasi yang efektif merupakan cara yang positif untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dalam menjalankan audit.

 

9. Menghadapi banyaknya Oposisi

Terdapat tiga jenis pokok dari banyaknya oposisi :

  1. Suatu indikasi yang menunjukan kurang pentingnya audit
  2. Pihak yangdiaudit bertindak dalam suatu gaya konfrontasional
  3. Pihak yang diaudit menolak untuk mengambil berbagai tindakan selama atau secara audit.

10. Pelaksanaan Audit Partisipatif

Telah menjadi suatu hal yang umum dalam audit bahwa inti dari kinerja audit yang baik berasal dari pendekatan keprilakuan. Elemen keprilakuan tersebut meliputi:

  1. Pada awal audit, tanyakan pada pihak yang diadit bidang mana yang akan diaudit.
  2. Bangun suatu pendekatan kerja sama dengan staf pihak yang diaudit dalam menilai Pemrogram audit dan Pelaksanaan audit
  3. Perolehan persetujuan dan rekomendasi untuk tindakan koreksi
  4. Dapatkan persetujuan atas isi laporan
  5. Memasukan informasi nyata pada laporan audit. Partisipasi didalam audit membantu memecahkan berbagai permasalahan dan mengordinasikan tindakan korektif.Seluruh keberhasilan diatas tergantung pada kredibilitas auditor atas kekejujuran.

11. Penggunaan Pengetahuan Keperilakuan dalam Audit

Diasumsikan bahwa para auditor internal dalam setiap pekerjaannya selalu berhubungan dengan karyawan – karyawan yang ada diorganisasi. Kedekatan ini menghasilkan posisi evaluative yang memungkinkan karyawan untuk menerima atau menolak auditor, di mana hal tersebut akan berdampak pada tingkat kebebasan auditor. Pengalaman dan pemahaman atas aspek keperilakuan serta pertimbangan terkait memberikan kepada auditor alat audit yang kuat.

Selain masalah perilaku pihak yang diaudit, auditor internal juga perlu memahami budaya organisasi. Porter et al (1985) dikatakan bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku auditor. Untuk budaya organisasi, unsure – unsure tercermin, antara lain :

1)      Komitmen karyawan

2)      Kualitas pelatihan dan Pengembangan staf

3)      Identitas perusahaan seperti kebijakan.

4)      Pembuatan keputusan,dan.

5)      Fokus manajemen.

Oleh karena itu,  suatu audit tidak akan menjadi kontradiktif ketika laporan audit dapat diterima dan di implementasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: