Tugas resume “kode etik akuntan indonesia , kode etik intosai, dan perencanaan audit”

Nama : sri yuni abdullah

kelas : c

  1. A.    KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

Kode Etik Akuntan Indonesia mempunyai struktur seperti kode etik AICPA yang meliputi prinsip etika, aturan etika dan interpretasi aturan etika yang diikuti dengan tanya jawab dalam kaitannya dengan interpretasi aturan etika. Prinsip-prinsip etika dalam Kode Etik IAI ada 8 (delapan), yaitu:

  1. Tanggung Jawab

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap akuntan harus senantiasa mewujudkan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua kegiatan yang dilakukan.

  1. Kepentingan Umum (Publik)

Setiap akuntan harus menerima kewajiban untuk melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada profesional.

  1. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

  1. Obyektivitas

Setiap akuntan harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati – hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa auditan atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

  1. Kerahasiaan

Setiap akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

  1. Perilaku Profesional

Setiap akuntan harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

  1. Standar Teknis

Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan.

 

  1. B.     KODE ETIK INTOSAI

Kode etik INTOSAI terdiri dari:

  1. Integritas

Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan oleh auditor ketika memunculkan keunggulan personal ketika memberikan layanan professional kepada instansi tempat auditor bekerja dan kepada auditannya.

  1. Obyektivitas

INTOSAI menyatakan bahwa auditor tidak hanya bersifat independen terhadap auditan dan pihak lainnya, tetapi juga harus obyektif dalam menghadapi berbagai masalah yang direview. Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. Dalam mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh bertindak atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan, atau pengaruh dari pihak lain. Obyektivitas ini dipraktikkan ketika auditor mengambil keputusan-keputusan dalam kegiatan auditnya.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian

Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa instansi tempat ia bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan profesinya berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan, dan teknik-teknik yang terbaru.

  1. Kerahasiaan

Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya. Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial.

 

  1. C.    PERENCANAAN AUDIT

Dalam banyak literatur auditing, tahapan persiapan audit sering disamakan dengan tahapan perencanaan audit. Di sisi lain, beberapa literature auditing membedakan kedua tahapan ini. Tahapan persiapan audit berisi berbagai kegiatan berkenaan dengan penerimaan penugasan audit dan perolehan berbagai informasi yang diperlukan untuk mengembangkan perencanaan audit dan program audit secara menyeluruh. Suatu perencanaan audit yang baik akan mendukung auditor melaksanakan penugasan dengan efektif dan efisien. Informasi yang cukup mengenai penugasan akan membantu auditor dalam merencanakan pengujian dan prosedur audit lain yang sesuai.

Berdasarkan cakupan perencanaan, perencanaan audit dapat dikategorikan dalam dua kelompok utama perencanaan, perencanaan organisasi audit dan perencanaan penugasan audit. Perencanaan organisasi audit dapat dirinci menjadi dua jenis perencanaan, yaitu perencanaan jangka panjang, yang sering disebut sebagai rencana strategis, dan perencanaan jangka pendek yang biasanya dalam jangka waktu satu tahun, yang disebut perencanaan operasional. Perencanaan penugasan audit adalah perencanaan untuk setiap penugasan yang dilakukan oleh tim audit.

Lembaga audit harus memastikan bahwa lembaga ini memiliki sumber daya yang cukup untuk melayani para auditannya, baik saat ini maupun di masa depan, yang dituangkan dalam rencana operasional.

  1. Perencanaan Lembaga Audit

Lembaga audit sektor publik, baik internal maupun eksternal, umumnya memiliki tugas yang lebih luas daripada akuntan publik. Sifat praktik sektor public yang beragam mengharuskan suatu rencana strategis dirancang untuk menetapkan audit prioritas pada jangka menengah (satu sampai lima tahun). Dengan melakukan perencanaan strategis, pekerjaan-pekerjaan prioritas dapat ditetapkan. Sumber daya yang ada dan kebutuhan pelatihan sumber daya kemudian dapat dikombinasikan untuk menghasilkan input yang memadai untuk menghasilkan output audit yang diinginkan.

Lembaga audit dapat memberikan layanan-layanan kepada berbagai lembaga auditan. Untuk setiap auditan, lembaga audit mungkin memiliki berbagai tugas dan setiap tugas ini mungkin memerlukan beberapa penugasan audit individual. Rencana strategis mengorganisasikan berbagai penugasan berbeda ini ke dalam seperangkat penugasan yang koheren dan menghasilkan suatu kerangka kerja untuk layanan-layanan audit yang efektif dan efisien.

  1. Perencanaan Strategis untuk Setiap Auditan

Lembaga audit biasanya akan mengarahkan usahanya pada penugasan – penugasan yang akan mencakup semua bidang yang secara finansial signifikan dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh auditannya. Lembaga audit hanya akan berkonsentrasi pada bidang-bidang yang dianggap material. Selain itu, lembaga audit juga harus mempertimbangkan untuk memeriksa bidang-bidang yang memiliki risiko signifikan terjadinya salah saji keuangan, pengendalian intern yang buruk atau aktivitas yang tidak efisien dan efektif. Beberapa penugasan audit mungkin akan mencakup bidang-bidang yang memiliki risiko audit yang substansial dan juga material. Jelaslah bahwa lembaga audit harus mempertimbangkan semua kemungkinan penugasan pada satu auditan berdasarkan materialitas dan risikonya sebelum lembaga tersebut memutuskan tingkat kepentingan setiap penugasan secara relatif.

  1. Akuntabilitas

Semua tugas auditor pasti dikaitkan dengan peranan utamanya yaitu meningkatkan akuntabilitas. Berdasarkan pandangan ini, semua jenis audit, apakah itu audit keuangan, audit kinerja ataupun audit dengan tujuan tertentu, merupakan komponen-komponen yang penting dalam suatu peranan audit yaitu meningkatkan akuntabilitas.

  1. Penilaian Materialitas dan Risiko secara Obyektif dan Subyektif

Bila auditor memperoleh bukti-bukti yang diperlukan dengan menggunakan sampling statistik, seperti sampling unit moneter, maka pengukuran materialitas dan risiko dapat dilakukan dengan mudah. Dengan sampling unit moneter, jumlah pekerjaan audit yang diperlukan ditentukan oleh tiga variabel: tingkat kepercayaan (risiko), ukuran populasi dan materialitas. Hal ini akan dibahas secara rinci pada bab yang membahas tentang sampling statistik.

Sampling statistik dalam uji pengendalian intern tidak melibatkan sampling unit moneter. Dalam sampling ini, setiap pengendalian kunci yang rencana operasional. diuji dalam suatu organisasi dipandang sama pentingnya. Hal yang terpenting dalam sampling statistik uji pengendalian intern adalah pengendalian – pengendalian mana yang akan diuji. Keputusan-keputusan ini umumnya didasarkan pada materialitas dari bidang-bidang yang dikendalikan oleh pengendalian-pengendalian tersebut. Oleh karena itu, perencanaan strategis untuk pengujian pengendalian perlu ditentukan bersamaan dengan penentuan perencanaan pekerjaan sampling unit moneter.

Daftar faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penilaian risiko secara subyektif:

1)      Nilai moneter dari transaksi-transaksi yang diaudit.

2)      Terjadinya kesalahan-kesalahan dan kerugian-kerugian di masa lalu.

3)      Sistem-sistem lain atau angka-angka lain yang terpengaruh.

4)      Sensitivitas setiap kesalahan atau kerugian terhadap manajemen atau politisi.

5)      Adanya kekurangan staf.

6)      Perubahan-perubahan dalam sistem utama atau dalam personil kunci.

7)      Penilaian risiko dari manajemen auditan.

 

3. Perencanaan Strategis dalam Audit Kinerja

Perencanaan strategis menjadi sangat penting dalam perencanaan audit kinerja, terutama dalam pemilihan bidang-bidang yang akan diaudit. Audit kinerja memiliki karakteristik di mana kriteria yang digunakan tidak memiliki definisi yang absolut. Analisis dan penilaian atas berbagai pengamatan harus dilakukan secara kasus per kasus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang dapat bernuansa politis. Hal inilah yang menyebabkan perencanaan audit kinerja harus dilakukan secara menyeluruh dalam bentuk perencanaan strategis.

Perencanaan strategis dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1)        Penetapan bidang-bidang yang secara potensial merupakan bidang audit yang akan dipilih secara strategis.

2)        Penetapan kriteria yang akan digunakan untuk memilih bidang-bidang yang akan diaudit.

3)        Identifikasi sumber-sumber informasi utama untuk audit terhadap lembaga/bidang yang terpilih.

  1. Perencanaan Operasional Suatu Lembaga Audit

Suatu perencanaan operasional suatu lembaga audit terdiri dari dua komponen utama, yaitu layanan audit yang diberikan dan sumber daya yang tersedia. Layanan audit yang diberikan adalah layanan yang akan disediakan pada setiap tahun anggaran, yang meliputi aspek-aspek apa yang akan diaudit dan jenis-jenis audit yang akan dilaksanakan. Sumber daya yang tersedia berkaitan dengan jumlah staf dan kemampuan mereka. Sumber daya staf biasanya adalah faktor yang terbatas dalam suatu audit. Tidak ada sumber daya kunci lain yang membatasi layanan diberikan kepada auditan. Dalam pembahasan ini diasumsikan bahwa rencana operasional dilakukan untuk organisasi auditan yang selama ini dilayani. Sumber daya yang tersedia adalah staf saat ini ditambah kemungkinan pegawai baru, dikurangi pegawai yang pensiun.

Sebelum awal tahun anggaran, lembaga audit perlu membuat suatu kalender untuk setiap staf yang ada dan staf yang mungkin ada yang menunjukkan waktu diklat, libur nasional (cuti bersama) dan cuti. Bila perhitungan memerlukan estimasi, terutama untuk kehilangan waktu karena cuti sakit atau hal-hal lain, estimasi yang paling realistis harus dibuat berdasarkan pengalaman di masa lalu. Kalender ini memiliki dua tujuan utama:

1)      Menghasilkan estimasi yang seakurat mungkin jumlah jam-staf yang dapat digunakan.

2)      Hilangnya waktu dapat dilihat dengan segera.

 

Perencanaan operasional biasanya didokumentasikan dalam suatu dokumen perencanaan yang bertujuan memberikan arahan prioritas audit dan cakupan audit. Dokumen ini berisi program kerja yang telah disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya, terutama sumber daya manusia (staf). Penentuan prioritas oleh suatu lembaga audit biasanya didasarkan pada suatu kebijakan pada sektor publik, baik prioritas nasional/lokal, kebijakan pembangunan, anggaran negara/daerah, peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara dan berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Perencanaan operasional lembaga audit pada umumnya terdiri dari rencana kerja tahunan dan rencana kerja audit. Rencana kerja tahunan biasanya berisi kebijakan-kebijakan audit yang dipilih untuk satu tahun anggaran. Rencana ini menjelaskan tujuan, aktivitas, dan sumber daya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan. Rencana kerja audit berisi informasi mengenai entitas-entitas yang akan diaudit, auditor-auditor yang ditugaskan, orang hari atau durasi audit dan biaya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang tertera dalam rencana kerja tahunan.

Perencanaan yang baik memungkinkan lembaga audit untuk mengelola ketersediaan sumber daya pengaman ini.

  1. Perencanaan Penugasan Audit dan Manfaatnya

Arens dan Loebbecke menyatakan bahwa alasan mengapa auditor harus merencanakan penugasan dengan sebaik-baiknya adalah untuk memampukan auditor mendapatkan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk setiap situasi yang dihadapi, untuk menekan biaya audit sampai pada jumlah yang sepantasnya, dan menghindarkan terjadinya kesalahpahaman dengan auditan. Alasan-alasan ini juga yang menjadi pertimbangan auditor sector publik untuk melakukan persiapan dan perencanaan audit. Auditor sektorpublik memerlukan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk mendukung laporan audit. Mereka menghadapi kendala waktu dan anggaran yang disediakan untuk melakukan audit. Contohnya, audit laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan BPK dalam dua bulan. Informasi yang cukup tentang auditan yang dikumpulkan dalam perencanaan audit akan membantu auditor memahami penugasan dan auditan dan membantunya memiliki komunikasi yang baik dengan auditan, dan karenanya menghindari kesalahpahaman dengan auditan.

Dengan demikian, beberapa manfaat yang diperoleh auditor jika perencanaan audit dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu:

1)      Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup

2)      Membantu menentukan sumber daya yang diperlukan dan biaya audit

3)      Menentukan prioritas

4)      Meningkatkan disiplin dalam penyelesaian proses audit

5)      Membangun saling pengertian dengan auditan

 

Audit dengan perencanaan yang baik akan mengantisipasikan beberapa hal berikut:

a)      Berbagai jenis audit, karakteristik auditan dan penugasan staf yang kompeten

b)      Arah dan pengendalian audit

c)      Aspek-aspek kritis

d)     Jangka waktu penyelesaian.

 

Di samping manfaat, ada beberapa hambatan dalam perencanaan audit yang harus dihindarkan oleh auditor:

a)      Perencanaan audit terlalu rumit dan tidak efisien

Perencanaan audit dapat menjadi rumit jika sebagian besar waktu dialokasikan untuk melengkapi kertas kerja secara detail dan hanya sedikit alokasi waktu untuk prosedur audit yang sebenarnya.

b)     Perencanaan audit yang kaku

Perencanaan audit yang tidak fleksibel akan membuat auditor melanggar rencana audit yang telah ditetapkan. Kegagalan dalam melaksanakan audit sesuai rencana berisiko menghilangkan semua manfaat yang bisa didapat dari perencanaan audit.

Perencanaan yang baik atas penugasan audit akan membantu memastikan bahwa setiap bidang-bidang penting yang diaudit telah memperoleh perhatian selayaknya, masalah-masalah penting telah diidentifikasi dan pekerjaan audit dapat diselesaikan dengan cara yang paling cepat. Perencanaan juga membantu dalam melakukan pembagian kerja kepada asisten dan dalam melakukan koordinasi pekerjaan dengan auditor lain atau tenaga ahli.

 

Tugas 6 “Novel”

Si Ceria Dhea Patricia pongoliu

deaDhea patricia pongoliu memiliki nama panggilan Dhea, lahir di Gorontalo 21 oktober 1992 sekarang usianya mendekati 21 tahun. Dhea adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Dhea memiliki sifat yang  periang,  humoris, apabila bersama dia pasti senang, dan selalu tertawa, buat dhea orang yang terpenting dalam hidupnya adalah keluarga. Dia adalah tipe anak yang berbakti kepada kedua orang tua, selalu mendengarkan nasehat orang tua walaupun itu menentang buatnya. ia sangat dekat dengan ayahnya karena ayahnya selalu menyayanginya dan bisa mengikuti kemana dia pergi. Ia selalu ingin menjadi diri sendiri,  karena buat dia memaksakan untuk menjadi orang lain akan menyiksa dirinya sendiri.

Aktifitas keseharian dhea yaitu selain ke kampus dia juga menyempatkan diri untuk membersihkan rumah dan jalan sama teman-teman, dia memiliki banyak teman dan orang-orang sangat senang berteman dengannya karena menurut teman-temannya dea itu selalu membawa keceriaan. Jika orang pertama mengenal dhea mereka  pasti berkata dhea itu orangnya pendiam dan sangat santai, Dia sangat tidak senang dengan suasana yang sepi dia menyukai tempat-tempat ramai, tapi ia tidak memiliki kebebasan yang  lebih untuk selalu bisa berkumpul dengan teman-temanya karena orang tua dhea tidak terlalu memberikan kebebasan lebih buatnya. Dia memiliki impian masa kecil untuk menjadi seorang polwan tapi karena sesuatu dan lain hal impian massa kecilnya berubah, sekarang ia ingin menjadi seorang wirausaha yang sukses dan mempunyai hobbi makan, menyanyi dan nonton, buat dhea makan adalah segalanya, dia mau menonton segala jenis flem baik itu flem barat, flem horor apa lagi flem yang bernuansa romantis adalah hobinya, hobi nontonnya tidak bisa dihilangkan walaupun seharian berada dimuka tv sampai-sampai kena marah oleh mamanya.

Dia sangat tidak suka dengan orang yang sifatnya berlebih-lebihan alias lebay. Dhea memiliki keinginan atau cita-cita untuk ingin sukses dan bisa berguna bagi orang lain, ia juga memiliki tujuan hidup yaitu  “melupakan  masa lalu mengubah  masa kini dan menata masa depan” . dhea memiliki kebiasaan buruk yaitu pelupa dan sangat blak-blakan apabila ia melihat hal-hal aneh maka ia akan langsung tertawa.

Dhea memiliki kriteria seorang pacar yaitu lebih tinggi darinya, seiman dengannya dan yang terpenting buat dhea adalah cowok itu bisa menerima dia apa adanya serta kelak bisa membahagiakannya.  Dia memiliki pengalaman yang tak terlupakan yaitu pernah dikejar anjing. Dhea berkata semua orang ganteng adalah fensnya apa lagi pemeran flem laga jet li. Suka dengan warna-warna cerah, dia sangat takut dengan kecoak. Kesimpulannya dhea adalah orang yang ceria,periang, baik hati kepada sesama dan bisa membuat orang lain tertawa hahahahahahaha…

xxxxxxxxxxxx

By:

Sri yuni abdullah

59769_582825548403454_1075196901_n

Tugas 5 Resume “KODE ETIK AKUNTANSI INDONESIA, KODE ETIK INTOSAI, DAN PERENCANAAN AUDIT

Nama          : Novriyanti Usman

Nim            : 921 410 224

Kelas           : C Akuntansi Sektor Publik

Tugas          : Resume Auditing Sektor Publik

 

  1. A.    KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

Etika profesional bagi praktik akuntan di Indonesia ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan disebut dengan Kode Etik Akuntan Indonesia. Dalam hubungan ini perlu diingat bahwa IAI adalah satu-satunya organisasi profesi akuntan di Indonesia. Anggota IAI meliputi auditor dalam berbagai jenisnya (auditor independen/publik, auditor intern dan auditor pemerintah), akuntan manajemen, dan akuntan pendidik. Oleh sebab itu, kode etik IAI berlaku bagi semua anggota IAI, tidak terbatas pada akuntan anggota IAI yang berpraktik sebagai akuntan publik. Kode Etik Akuntan Indonesia mempunyai struktur seperti kode etik AICPA yang meliputi prinsip etika, aturan etika dan interpretasi aturan etika yang diikuti dengan tanya jawab dalam kaitannya dengan interpretasi aturan etika. Prinsip-prinsip etika dalam Kode Etik IAI ada 8 (delapan), yaitu:

  1. Tanggung Jawab
  2. Kepentingan Umum (Publik)
  3. Integritas
  4. Obyektivitas
  5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
  6. Kerahasiaan
  7. Perilaku Profesional
  8. Standar Teknis

 

  1. B.     KODE ETIK INTOSAI

Kode etik INTOSAI terdiri dari:

  1. Integritas

Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan oleh auditor ketika memunculkan keunggulan personal ketika memberikan layanan professional kepada instansi tempat auditor bekerja dan kepada auditannya.

  1. Obyektivitas

Dalam paragaraf 15 dan 18, INTOSAI menyatakan bahwa auditor tidak hanya bersifat independen terhadap auditan dan pihak lainnya, tetapi juga harus obyektif dalam menghadapi berbagai masalah yang direview. Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. Dalam mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh bertindak atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan, atau pengaruh dari pihak lain. Obyektivitas auditor juga dapat terancam karena tekanantekanan pihak-pihak tertentu, seperti ancaman secara fisik. Untuk itu, auditor harus tetap menunjukkan sikap rasional dalam mengidentifikasi situasi-situasi atau tekanan-tekanan yang dapat mengganggu obyektivitasnya. Ketidakmampuan auditor dalam menegakkan satu atau lebih prinsip-prinsip dasar dalam aturan etika karena keadaan atau hubungan dengan pihak-pihak tertentu menunjukkan indikasi adanya kekurangan obyektivitas. Hubungan finansial dan non-finansial dapat mengganggu kemampuan auditor dalam menjalankan prinsip obyektivitas.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian

Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa instansi tempat ia bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan profesinya berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan, dan teknik-teknik yang terbaru. Berdasarkan prinsip dasar ini, auditor hanya dapat melakukan suatu audit apabila ia memiliki kompetensi yang diperlukan atau menggunakan bantuan tenaga ahli yang kompeten untuk melaksanakan tugas-tugasnya secara memuaskan.

Berkenaan dengan kompetensi, untuk dapat melakukan suatu penugasan audit, auditor harus dapat memperoleh kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan yang relevan. Pendidikan dan pelatihan ini dapat bersifat umum dengan standar tinggi yang diikuti dengan pendidikan khusus, sertifikasi, serta pengalaman kerja. Kompetensi yang diperoleh ini harus selalu dipertahankan dan dikembangkan dengan terus-menerus mengikuti perkembangan dalam profesi akuntansi, termasuk melalui penerbitan penerbitan nasional dan internasional yang relevan dengan akuntansi, auditing, dan keterampilan-keterampilan teknis lainnya.

  1. Kerahasiaan

Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya. Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial.

  1. PERENCANAAN AUDIT

Suatu audit, sama seperti proses-proses lainnya, menggunakan sumber daya yang terbatas untuk menyediakan suatu jasa/layanan. Oleh karena itu, persiapan dan perencanaan yang seksama diperlukan sehingga sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menyediakan jasa terbaik kepada pihak-pihak yang menggunakan hasil audit dan pihak-pihak yang membayar auditor untuk waktu dan usahanya. Output dari perencanaan audit adalah rencana audit tertulis untuk melakukan pekerjaan lapangan. Output ini juga berisi pernyataan tujuan audit berupa apa yang akan dihasilkan dari audit dan karenanya menunjukkan apa yang akan dilaporkan oleh auditor.

Dalam banyak literatur auditing, tahapan persiapan audit sering disamakan dengan tahapan perencanaan audit. Di sisi lain, beberapa literature auditing membedakan kedua tahapan ini. Tahapan persiapan audit berisi berbagai kegiatan berkenaan dengan penerimaan penugasan audit dan perolehan berbagai informasi yang diperlukan untuk mengembangkan perencanaan audit dan program audit secara menyeluruh. Suatu perencanaan audit yang baik akan mendukung auditor melaksanakan penugasan dengan efektif dan efisien. Informasi yang cukup mengenai penugasan akan membantu auditor dalam merencanakan pengujian dan prosedur audit lain yang sesuai.

Perencanaan organisasi merupakan metode yang digunakan auditor untuk membagi waktunya pada masing-masing penugasan dan pada masing – masing auditan. Setiap organisasi audit memiliki kewajiban berdasarkan undang-undang maupun kewajiban lain yang harus dipenuhi untuk setiap auditan. Dalam rangka memenuhi kewajiban ini, beberapa penugasan audit harus dilaksanakan setiap periode. Untuk itu, organisasi audit akan membuat rencana strategis yang mencakup setiap auditan untuk memastikan semua penugasan yang direncanakan untuk setiap auditan memenuhi tanggung jawab hukumnya dalam suatu tahun anggaran tertentu. Rencana strategis ini menjadi dirinci dalam rencana operasional. Lembaga audit harus memastikan bahwa lembaga ini memiliki sumber daya yang cukup untuk melayani para auditannya, baik saat ini maupun di masa depan, yang dituangkan dalam rencana operasional.

  1. Perencanaan Lembaga Audit

Lembaga audit sektor publik, baik internal maupun eksternal, umumnya memiliki tugas yang lebih luas daripada akuntan publik. Misalnya, Bawasda mempunyai tugas-tugas tertentu yang tertera dalam peraturan perundang-undangan mulai dari pemeriksaan keuangan sampai dengan pemeriksaan investigasi adanya kecurangan (KKN). Sifat praktik sektor public yang beragam mengharuskan suatu rencana strategis dirancang untuk menetapkan audit prioritas pada jangka menengah (satu sampai lima tahun). Dengan melakukan perencanaan strategis, pekerjaan-pekerjaan prioritas dapat ditetapkan. Sumber daya yang ada dan kebutuhan pelatihan sumber daya kemudian dapat dikombinasikan untuk menghasilkan input yang memadai untuk menghasilkan output audit yang diinginkan.

Lembaga audit dapat memberikan layanan-layanan kepada berbagai lembaga auditan. Untuk setiap auditan, lembaga audit mungkin memiliki berbagai tugas dan setiap tugas ini mungkin memerlukan beberapa penugasan audit individual. Rencana strategis mengorganisasikan berbagai penugasan berbeda ini ke dalam seperangkat penugasan yang koheren dan menghasilkan suatu kerangka kerja untuk layanan-layanan audit yang efektif dan efisien.

Ketika suatu lembaga audit memiliki lebih dari satu lembaga auditan, sumber daya yang dimiliki harus didistribusikan kepada setiap lembaga auditan ini. Inspektorat Jendral suatu departemen dapat menghabiskan hampir sebagian besar waktunya untuk melayani departemen bersangkutan dan sebagian kecil waktunya untuk melayani lembaga-lembaga di pemerintah daerah dalam bentuk penyediaan jasa keahlian tertentu. Demikian juga, Bawasda harus melayani beberapa lembaga pemerintah daerah. Dalam kedua situasi ini, sumber daya yang dimiliki Itjen dan Bawasda harus dialokasikan kepada beberapa auditan berbeda. Basis alokasinya biasanya sederhana: kebutuhan sumber daya biasanya sudah disetujui bersama dengan auditan dalam bentuk orang-hari kerja.

  1. Perencanaan Strategis untuk Setiap Auditan

Lembaga audit biasanya akan mengarahkan usahanya pada penugasan – penugasan yang akan mencakup semua bidang yang secara finansial signifikan dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh auditannya. Lembaga audit hanya akan berkonsentrasi pada bidang-bidang yang dianggap material. Selain itu, lembaga audit juga harus mempertimbangkan untuk memeriksa bidang-bidang yang memiliki risiko signifikan terjadinya salah saji keuangan, pengendalian intern yang buruk atau aktivitas yang tidak efisien dan efektif. Beberapa penugasan audit mungkin akan mencakup bidang-bidang yang memiliki risiko audit yang substansial dan juga material. Jelaslah bahwa lembaga audit harus mempertimbangkan semua kemungkinan penugasan pada satu auditan berdasarkan materialitas dan risikonya sebelum lembaga tersebut memutuskan tingkat kepentingan setiap penugasan secara relatif.

  1. Akuntabilitas
  2. Penilaian Materialitas dan Risiko secara Obyektif dan Subyektif
  3. Perencanaan Strategis dalam Audit Kinerja

Perencanaan strategis menjadi sangat penting dalam perencanaan audit kinerja, terutama dalam pemilihan bidang-bidang yang akan diaudit. Audit kinerja memiliki karakteristik di mana kriteria yang digunakan tidak memiliki definisi yang absolut. Analisis dan penilaian atas berbagai pengamatan harus dilakukan secara kasus per kasus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang dapat bernuansa politis. Hal inilah yang menyebabkan perencanaan audit kinerja harus dilakukan secara menyeluruh dalam bentuk perencanaan strategis.

Perencanaan strategis menjadi dasar pemilihan topik audit dan kemungkinan-kemungkinan studi awal. Perencanaan strategis dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1)      Penetapan bidang-bidang yang secara potensial merupakan bidang audit yang akan dipilih secara strategis. Pemilihan bidang audit melibatkan berbagai pilihan strategis berkaitan dengan konsekuensi keuangan dan sumber daya bagi lembaga audit. Jumlah bidang-bidang potensial sangat banyak sedangkan sumber daya lembaga audit terbatas. Oleh karena itu, pemilihan ini harus dilakukan dengan hatihati.

2)      kriteria yang akan digunakan untuk memilih bidang-bidang yang akan diaudit. Kriteria seleksi utama umumnya adalah kontribusi potensial dari audit terhadap penilaian dan peningkatan berfungsinya lembaga pemerintah.

3)      Identifikasi sumber-sumber informasi utama untuk audit terhadap lembaga/bidang yang terpilih. Informasi yang mudah didapat dan paling dipercaya adalah informasi yang didapat dari survei dan studi yang telah dilakukan oleh lembaga audit itu sendiri.

  1. Perencanaan Operasional Suatu Lembaga Audit

Suatu perencanaan operasional suatu lembaga audit terdiri dari dua komponen utama, yaitu layanan audit yang diberikan dan sumber daya yang tersedia. Layanan audit yang diberikan adalah layanan yang akan disediakan pada setiap tahun anggaran, yang meliputi aspek-aspek apa yang akan diaudit dan jenis-jenis audit yang akan dilaksanakan. Sumber daya yang tersedia berkaitan dengan jumlah staf dan kemampuan mereka. Sumber daya staf biasanya adalah faktor yang terbatas dalam suatu audit. Tidak ada sumber daya kunci lain yang membatasi layanan diberikan kepada auditan. Dalam pembahasan ini diasumsikan bahwa rencana operasional dilakukan untuk organisasi auditan yang selama ini dilayani. Sumber daya yang tersedia adalah staf saat ini ditambah kemungkinan pegawai baru, dikurangi pegawai yang pensiun.

Perencanaan operasional biasanya didokumentasikan dalam suatu dokumen perencanaan yang bertujuan memberikan arahan prioritas audit dan cakupan audit. Dokumen ini berisi program kerja yang telah disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya, terutama sumber daya manusia (staf). Penentuan prioritas oleh suatu lembaga audit biasanya didasarkan pada suatu kebijakan pada sektor publik, baik prioritas nasional/lokal, kebijakan pembangunan, anggaran negara/daerah, peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara dan berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Perencanaan operasional lembaga audit pada umumnya terdiri dari rencana kerja tahunan dan rencana kerja audit. Rencana kerja tahunan biasanya berisi kebijakan-kebijakan audit yang dipilih untuk satu tahun anggaran. Rencana ini menjelaskan tujuan, aktivitas, dan sumber daya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan. Rencana kerja audit berisi informasi mengenai entitas-entitas yang akan diaudit, auditor-auditor yang ditugaskan, orang hari atau durasi audit dan biaya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang tertera dalam rencana kerja tahunan.

Segera setelah auditan ditetapkan, rencana kerja audit harus mendokumantasikan faktor-faktor tertentu yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan penugasan audit.

 

  1. Perencanaan Penugasan Audit dan Manfaatnya

Perencanaan merupakan tahapan yang penting dalam proses audit. Standar pekerjaan lapangan pertama mengharuskan bahwa “Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.” Perencanaan meliputi penetapan tujuan audit dan pemilihan ruang lingkup dan metodologi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tujuan dapat dipandang sebagai pertanyaan-pertanyaan yang oleh auditor dicarikan jawabannya. Ruang lingkup adalah batasan dari audit. Metodologi menjelaskan bagaimana tujuan-tujuan tersebut akan dicapai dan berisi pekerjaan-pekerjaan mengumpulkan bukti dan membuat analisis untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Standar audit mengharuskan bahwa rincian dari rencana untuk pekerjaan lapangan ditulis dalam suatu program audit.

Arens dan Loebbecke menyatakan bahwa alasan mengapa auditor harus merencanakan penugasan dengan sebaik-baiknya adalah untuk memampukan auditor mendapatkan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk setiap situasi yang dihadapi, untuk menekan biaya audit sampai pada jumlah yang sepantasnya, dan menghindarkan terjadinya kesalahpahaman dengan auditan. Alasan-alasan ini juga yang menjadi pertimbangan auditor sector publik untuk melakukan persiapan dan perencanaan audit. Auditor sektorpublik memerlukan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk mendukung laporan audit. Mereka menghadapi kendala waktu dan anggaran yang disediakan untuk melakukan audit.

Dengan demikian, beberapa manfaat yang diperoleh auditor jika perencanaan audit dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu:

1)      Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup

Dengan merencanakan audit sebaik-baiknya, auditor dapat menentukan kecukupan bahan bukti yang diperlukannya sesuai dengan risiko dan materialitas tiap-tiap pos laporan keuangan. Bahan bukti yang kompeten dan cukup dapat digunakan auditor untuk mendukung pendapat yang dikeluarkannya.

2)      Membantu menentukan sumber daya yang diperlukan dan biaya audit

Dengan perencanaan, auditor dapat menentukan prosedur audit yang hendak dilakukan sehingga lama pemeriksaan dan biaya audit dapat diperkirakan. Selain itu perencanaan yang jelas dapat menghindarkan tumpang tindih prosedur audit, yang merupakan penyebab membengkaknya biaya audit.

3)      Menentukan prioritas

Jika auditor ingin menyelesaikan audit sebelum waktu yang ditetapkan, maka teknik yang digunakan adalah menetapkan prioritas pada prosedur audit individual. Tiap-tiap prosedur diselesaikan sesuai dengan urutan prioritas dan tidak melakukan prosedur audit pada pos – pos yang dianggap aman.

4)      Meningkatkan disiplin dalam penyelesaian proses audit

Sebagaimana hutang yang memiliki tanggal jatuh tempo, audit juga memiliki target yang hendak dicapai baik dari segi waktu, biaya, maupun pencapaian. Perencanaan audit merupakan gambaran target yang harus dicapai oleh auditor.

5)      Membangun saling pengertian dengan auditan

Rencana audit dapat digunakan untuk mengkomunikasikan gambaran proses audit yang akan dilakukan terhadap perusahaan/instansinya. Diharapkan dapat terjalin saling pengertian dan kerja sama antara auditor dengan auditan.

Di samping manfaat, ada beberapa hambatan dalam perencanaan audit yang harus dihindarkan oleh auditor:

a)      Perencanaan audit terlalu rumit dan tidak efisien

Perencanaan audit dapat menjadi rumit jika sebagian besar waktu dialokasikan untuk melengkapi kertas kerja secara detail dan hanya sedikit alokasi waktu untuk prosedur audit yang sebenarnya.

b)      Perencanaan audit yang kaku

Perencanaan audit yang tidak fleksibel akan membuat auditor melanggar rencana audit yang telah ditetapkan. Kegagalan dalam melaksanakan audit sesuai rencana berisiko menghilangkan semua manfaat yang bisa didapat dari perencanaan audit.

Perencanaan yang baik atas penugasan audit akan membantu memastikan bahwa setiap bidang-bidang penting yang diaudit telah memperoleh perhatian selayaknya, masalah-masalah penting telah diidentifikasi dan pekerjaan audit dapat diselesaikan dengan cara yang paling cepat. Perencanaan juga membantu dalam melakukan pembagian kerja kepada asisten dan dalam melakukan koordinasi pekerjaan dengan auditor lain atau tenaga ahli.

 

Tugas 5 Resume “KODE ETIK AKUNTANSI INDONESIA, KODE ETIK INTOSAI, DAN PERENCANAAN AUDIT

NAMA : FATRISYA PONGOLIU

NIM     : 921410219

KELAS            : C

 

  1. A.    KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

Kode Etik Akuntan Indonesia mempunyai struktur seperti kode etik AICPA yang meliputi prinsip etika, aturan etika dan interpretasi aturan etika yang diikuti dengan tanya jawab dalam kaitannya dengan interpretasi aturan etika. Prinsip-prinsip etika dalam Kode Etik IAI ada 8 (delapan), yaitu:

  1. Tanggung Jawab

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap akuntan harus senantiasa mewujudkan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua kegiatan yang dilakukan.

  1. Kepentingan Umum (Publik)

Setiap akuntan harus menerima kewajiban untuk melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada profesional.

  1. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

  1. Obyektivitas

Setiap akuntan harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati – hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa auditan atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

  1. Kerahasiaan

Setiap akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

  1. Perilaku Profesional

Setiap akuntan harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

  1. Standar Teknis

Setiap akuntan harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan.

 

  1. B.     KODE ETIK INTOSAI

Kode etik INTOSAI terdiri dari:

  1. Integritas

Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Integritas tidak hanya berupa kejujuran tetapi juga sifat dapat dipercaya, bertindak adil dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Hal ini ditunjukkan oleh auditor ketika memunculkan keunggulan personal ketika memberikan layanan professional kepada instansi tempat auditor bekerja dan kepada auditannya.

  1. Obyektivitas

INTOSAI menyatakan bahwa auditor tidak hanya bersifat independen terhadap auditan dan pihak lainnya, tetapi juga harus obyektif dalam menghadapi berbagai masalah yang direview. Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. Dalam mengambil keputusan atau tindakan, ia tidak boleh bertindak atas dasar prasangka atau bias, pertentangan kepentingan, atau pengaruh dari pihak lain. Obyektivitas ini dipraktikkan ketika auditor mengambil keputusan-keputusan dalam kegiatan auditnya.

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian

Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan. Untuk itu auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keahlian profesinya pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa instansi tempat ia bekerja atau auditan dapat menerima manfaat dari layanan profesinya berdasarkan pengembangan praktik, ketentuan, dan teknik-teknik yang terbaru.

  1. Kerahasiaan

Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya. Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial.

 

  1. C.    PERENCANAAN AUDIT

Dalam banyak literatur auditing, tahapan persiapan audit sering disamakan dengan tahapan perencanaan audit. Di sisi lain, beberapa literature auditing membedakan kedua tahapan ini. Tahapan persiapan audit berisi berbagai kegiatan berkenaan dengan penerimaan penugasan audit dan perolehan berbagai informasi yang diperlukan untuk mengembangkan perencanaan audit dan program audit secara menyeluruh. Suatu perencanaan audit yang baik akan mendukung auditor melaksanakan penugasan dengan efektif dan efisien. Informasi yang cukup mengenai penugasan akan membantu auditor dalam merencanakan pengujian dan prosedur audit lain yang sesuai.

Berdasarkan cakupan perencanaan, perencanaan audit dapat dikategorikan dalam dua kelompok utama perencanaan, perencanaan organisasi audit dan perencanaan penugasan audit. Perencanaan organisasi audit dapat dirinci menjadi dua jenis perencanaan, yaitu perencanaan jangka panjang, yang sering disebut sebagai rencana strategis, dan perencanaan jangka pendek yang biasanya dalam jangka waktu satu tahun, yang disebut perencanaan operasional. Perencanaan penugasan audit adalah perencanaan untuk setiap penugasan yang dilakukan oleh tim audit.

Lembaga audit harus memastikan bahwa lembaga ini memiliki sumber daya yang cukup untuk melayani para auditannya, baik saat ini maupun di masa depan, yang dituangkan dalam rencana operasional.

  1. Perencanaan Lembaga Audit

Lembaga audit sektor publik, baik internal maupun eksternal, umumnya memiliki tugas yang lebih luas daripada akuntan publik. Sifat praktik sektor public yang beragam mengharuskan suatu rencana strategis dirancang untuk menetapkan audit prioritas pada jangka menengah (satu sampai lima tahun). Dengan melakukan perencanaan strategis, pekerjaan-pekerjaan prioritas dapat ditetapkan. Sumber daya yang ada dan kebutuhan pelatihan sumber daya kemudian dapat dikombinasikan untuk menghasilkan input yang memadai untuk menghasilkan output audit yang diinginkan.

Lembaga audit dapat memberikan layanan-layanan kepada berbagai lembaga auditan. Untuk setiap auditan, lembaga audit mungkin memiliki berbagai tugas dan setiap tugas ini mungkin memerlukan beberapa penugasan audit individual. Rencana strategis mengorganisasikan berbagai penugasan berbeda ini ke dalam seperangkat penugasan yang koheren dan menghasilkan suatu kerangka kerja untuk layanan-layanan audit yang efektif dan efisien.

  1. Perencanaan Strategis untuk Setiap Auditan

Lembaga audit biasanya akan mengarahkan usahanya pada penugasan – penugasan yang akan mencakup semua bidang yang secara finansial signifikan dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh auditannya. Lembaga audit hanya akan berkonsentrasi pada bidang-bidang yang dianggap material. Selain itu, lembaga audit juga harus mempertimbangkan untuk memeriksa bidang-bidang yang memiliki risiko signifikan terjadinya salah saji keuangan, pengendalian intern yang buruk atau aktivitas yang tidak efisien dan efektif. Beberapa penugasan audit mungkin akan mencakup bidang-bidang yang memiliki risiko audit yang substansial dan juga material. Jelaslah bahwa lembaga audit harus mempertimbangkan semua kemungkinan penugasan pada satu auditan berdasarkan materialitas dan risikonya sebelum lembaga tersebut memutuskan tingkat kepentingan setiap penugasan secara relatif.

  1. Akuntabilitas

Semua tugas auditor pasti dikaitkan dengan peranan utamanya yaitu meningkatkan akuntabilitas. Berdasarkan pandangan ini, semua jenis audit, apakah itu audit keuangan, audit kinerja ataupun audit dengan tujuan tertentu, merupakan komponen-komponen yang penting dalam suatu peranan audit yaitu meningkatkan akuntabilitas.

  1. Penilaian Materialitas dan Risiko secara Obyektif dan Subyektif

Bila auditor memperoleh bukti-bukti yang diperlukan dengan menggunakan sampling statistik, seperti sampling unit moneter, maka pengukuran materialitas dan risiko dapat dilakukan dengan mudah. Dengan sampling unit moneter, jumlah pekerjaan audit yang diperlukan ditentukan oleh tiga variabel: tingkat kepercayaan (risiko), ukuran populasi dan materialitas. Hal ini akan dibahas secara rinci pada bab yang membahas tentang sampling statistik.

Sampling statistik dalam uji pengendalian intern tidak melibatkan sampling unit moneter. Dalam sampling ini, setiap pengendalian kunci yang rencana operasional. diuji dalam suatu organisasi dipandang sama pentingnya. Hal yang terpenting dalam sampling statistik uji pengendalian intern adalah pengendalian – pengendalian mana yang akan diuji. Keputusan-keputusan ini umumnya didasarkan pada materialitas dari bidang-bidang yang dikendalikan oleh pengendalian-pengendalian tersebut. Oleh karena itu, perencanaan strategis untuk pengujian pengendalian perlu ditentukan bersamaan dengan penentuan perencanaan pekerjaan sampling unit moneter.

Daftar faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penilaian risiko secara subyektif:

1)      Nilai moneter dari transaksi-transaksi yang diaudit.

2)      Terjadinya kesalahan-kesalahan dan kerugian-kerugian di masa lalu.

3)      Sistem-sistem lain atau angka-angka lain yang terpengaruh.

4)      Sensitivitas setiap kesalahan atau kerugian terhadap manajemen atau politisi.

5)      Adanya kekurangan staf.

6)      Perubahan-perubahan dalam sistem utama atau dalam personil kunci.

7)      Penilaian risiko dari manajemen auditan.

 

3. Perencanaan Strategis dalam Audit Kinerja

Perencanaan strategis menjadi sangat penting dalam perencanaan audit kinerja, terutama dalam pemilihan bidang-bidang yang akan diaudit. Audit kinerja memiliki karakteristik di mana kriteria yang digunakan tidak memiliki definisi yang absolut. Analisis dan penilaian atas berbagai pengamatan harus dilakukan secara kasus per kasus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, yang dapat bernuansa politis. Hal inilah yang menyebabkan perencanaan audit kinerja harus dilakukan secara menyeluruh dalam bentuk perencanaan strategis.

Perencanaan strategis dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

1)        Penetapan bidang-bidang yang secara potensial merupakan bidang audit yang akan dipilih secara strategis.

2)        Penetapan kriteria yang akan digunakan untuk memilih bidang-bidang yang akan diaudit.

3)        Identifikasi sumber-sumber informasi utama untuk audit terhadap lembaga/bidang yang terpilih.

  1. Perencanaan Operasional Suatu Lembaga Audit

Suatu perencanaan operasional suatu lembaga audit terdiri dari dua komponen utama, yaitu layanan audit yang diberikan dan sumber daya yang tersedia. Layanan audit yang diberikan adalah layanan yang akan disediakan pada setiap tahun anggaran, yang meliputi aspek-aspek apa yang akan diaudit dan jenis-jenis audit yang akan dilaksanakan. Sumber daya yang tersedia berkaitan dengan jumlah staf dan kemampuan mereka. Sumber daya staf biasanya adalah faktor yang terbatas dalam suatu audit. Tidak ada sumber daya kunci lain yang membatasi layanan diberikan kepada auditan. Dalam pembahasan ini diasumsikan bahwa rencana operasional dilakukan untuk organisasi auditan yang selama ini dilayani. Sumber daya yang tersedia adalah staf saat ini ditambah kemungkinan pegawai baru, dikurangi pegawai yang pensiun.

Sebelum awal tahun anggaran, lembaga audit perlu membuat suatu kalender untuk setiap staf yang ada dan staf yang mungkin ada yang menunjukkan waktu diklat, libur nasional (cuti bersama) dan cuti. Bila perhitungan memerlukan estimasi, terutama untuk kehilangan waktu karena cuti sakit atau hal-hal lain, estimasi yang paling realistis harus dibuat berdasarkan pengalaman di masa lalu. Kalender ini memiliki dua tujuan utama:

1)      Menghasilkan estimasi yang seakurat mungkin jumlah jam-staf yang dapat digunakan.

2)      Hilangnya waktu dapat dilihat dengan segera.

 

Perencanaan operasional biasanya didokumentasikan dalam suatu dokumen perencanaan yang bertujuan memberikan arahan prioritas audit dan cakupan audit. Dokumen ini berisi program kerja yang telah disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya, terutama sumber daya manusia (staf). Penentuan prioritas oleh suatu lembaga audit biasanya didasarkan pada suatu kebijakan pada sektor publik, baik prioritas nasional/lokal, kebijakan pembangunan, anggaran negara/daerah, peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara dan berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Perencanaan operasional lembaga audit pada umumnya terdiri dari rencana kerja tahunan dan rencana kerja audit. Rencana kerja tahunan biasanya berisi kebijakan-kebijakan audit yang dipilih untuk satu tahun anggaran. Rencana ini menjelaskan tujuan, aktivitas, dan sumber daya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan dan strategi yang telah ditetapkan. Rencana kerja audit berisi informasi mengenai entitas-entitas yang akan diaudit, auditor-auditor yang ditugaskan, orang hari atau durasi audit dan biaya yang diperlukan sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang tertera dalam rencana kerja tahunan.

Perencanaan yang baik memungkinkan lembaga audit untuk mengelola ketersediaan sumber daya pengaman ini.

  1. Perencanaan Penugasan Audit dan Manfaatnya

Arens dan Loebbecke menyatakan bahwa alasan mengapa auditor harus merencanakan penugasan dengan sebaik-baiknya adalah untuk memampukan auditor mendapatkan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk setiap situasi yang dihadapi, untuk menekan biaya audit sampai pada jumlah yang sepantasnya, dan menghindarkan terjadinya kesalahpahaman dengan auditan. Alasan-alasan ini juga yang menjadi pertimbangan auditor sector publik untuk melakukan persiapan dan perencanaan audit. Auditor sektorpublik memerlukan bukti-bukti kompeten yang cukup untuk mendukung laporan audit. Mereka menghadapi kendala waktu dan anggaran yang disediakan untuk melakukan audit. Contohnya, audit laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan BPK dalam dua bulan. Informasi yang cukup tentang auditan yang dikumpulkan dalam perencanaan audit akan membantu auditor memahami penugasan dan auditan dan membantunya memiliki komunikasi yang baik dengan auditan, dan karenanya menghindari kesalahpahaman dengan auditan.

Dengan demikian, beberapa manfaat yang diperoleh auditor jika perencanaan audit dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu:

1)      Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup

2)      Membantu menentukan sumber daya yang diperlukan dan biaya audit

3)      Menentukan prioritas

4)      Meningkatkan disiplin dalam penyelesaian proses audit

5)      Membangun saling pengertian dengan auditan

 

Audit dengan perencanaan yang baik akan mengantisipasikan beberapa hal berikut:

a)      Berbagai jenis audit, karakteristik auditan dan penugasan staf yang kompeten

b)      Arah dan pengendalian audit

c)      Aspek-aspek kritis

d)     Jangka waktu penyelesaian.

 

Di samping manfaat, ada beberapa hambatan dalam perencanaan audit yang harus dihindarkan oleh auditor:

a)      Perencanaan audit terlalu rumit dan tidak efisien

Perencanaan audit dapat menjadi rumit jika sebagian besar waktu dialokasikan untuk melengkapi kertas kerja secara detail dan hanya sedikit alokasi waktu untuk prosedur audit yang sebenarnya.

b)     Perencanaan audit yang kaku

Perencanaan audit yang tidak fleksibel akan membuat auditor melanggar rencana audit yang telah ditetapkan. Kegagalan dalam melaksanakan audit sesuai rencana berisiko menghilangkan semua manfaat yang bisa didapat dari perencanaan audit.

Perencanaan yang baik atas penugasan audit akan membantu memastikan bahwa setiap bidang-bidang penting yang diaudit telah memperoleh perhatian selayaknya, masalah-masalah penting telah diidentifikasi dan pekerjaan audit dapat diselesaikan dengan cara yang paling cepat. Perencanaan juga membantu dalam melakukan pembagian kerja kepada asisten dan dalam melakukan koordinasi pekerjaan dengan auditor lain atau tenaga ahli.

 

 

Tugas 6 Novel

ARTI HIDUPKU !

58467_2839183715467_1230830489_nSosok wanita yang lahir di Gorontalo 21 juni 1992 . yang memiliki berat badan 55 kg dan tinggi 160 cm. ia merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara . wanita ini bernama Omega.G.Paendong,biasa di panggil mega. Sosok wanita  sederhana ini memiliki kegemaran dan cita-cita yaitu dari kegemarannya ia sering menulis dan gemar bermain music,dan cita-citanya yaitu ingin menjadi seseorang yang sukses….””

Semasa sekolahnya ia pernah bersekolah di SDN 56 Kota tengah,kemudian semasa SMP,ia meneruskan ke sekolah SMP Negeri 8 Gorontalo,di sekolah  itu ia merupakan siswa yang selalu aktif di bidang akademik maupun non akademik. Setelah beberapa tahun kemudian,ia melanjutkan sekolahnya di jenjang SMA yaitu di sekolah SMA Negeri 3 Gorontalo,dimana sekolah tersebut merupakan sekolah favorit yang ada di daerah Kota Gorontalo. Disekolah itu ia di kenal oleh teman-temanya sebagai anak yang mudah bergaul dan ramai. Hmmm…..beberapa tahun kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Gorontalo di fakultas ekonomi dan bisnis tepatnya di jurusan Akuntansi. Syukurlah sekarang ia sudah semester 6 tidak terasa selangkah lagi ia ingin meraih sarjana amiiiinn……””

Wanita ini memiliki sifat yang sangat bosan,tetapi di balik sifatnya yang bosan ia merupakan sosok yang peduli terhadap orang lain atau pun terhadap teman . hal baik yang pernah di alaminya yaitu liburan keluar kota bersama keluarga tercinta, dan hal buruk yang pernah dialaminya yaitu kecelakaan saat berboncengan dengan teman dimotor,tetapi syukurlah pada saat itu ia dan temannya tidak mengalami luka yang parah..ia beragama Kristen protestan,walaupun dia beragama nasrani tetapi dia bisa menghargai temannya yang seorang muslim.kemudian wanita ini memiliki makanan favoritnya yaitu sayur-sayuran,karena baginya sayur-sayuran  merupakan sumber vitamin yang tinggi ,dan minuman favoritnya yaitu air mineral.wanirta ini memiliki criteria pacar yaitu tinggi, putih,baik dan penyayang terhadap kedua orang tua ku.

Ia mempunyai tujuan hidupnya yaitu ingin membahagiakan kedua orang tua,karena dibalik semua, orang tua adalah orang yang pertama yang sangat berarti dalam hidup kita,tanpa orang tua kita tidak akan menjadi orang yang sukses kelak nanti amiinn…….””

Aktifitas sehari-hari yaitu setiap pagi ia bangun pukul 7 pagi,lalu ia membersihkan tempat tidur dan tidak lupa untuk berdoa . kemudian ia berkerja menyapu rumah apabila ia tidak ada aktifitas di kampus. Setelah membersihkan rumah ia lanjut memasak nasi goreng,kemudian setelah selesai memasak ia pun tidak lupa untuk mencuci piring. Setelah selesai pekerjaan di dapur pukul 12.00 ia beristirahat siang.

Figure terhadap kedua orang tuaku,ingin mengutamakan mereka,karena hidupku bukanlah menjadi beban atau tanggungan buat mereka. Tetapi ia ingin membahagiakan atau menjadikan mereka sebagai raja dan ratu di kelak nanti.

by:    Chinthia    Giu

intu

Task 6 : “NOVEL”

“Sang Pejuang Hidup”

Picture1

Sang Surya mulai menampakan wujud sinarnya yang disambut oleh seluruh mahluk hidup yang ad di dunia ini, dan tak terkecuali bagi Ismail Molamahu. Aktivitas yang membuatnya harus menyambut pagi dikala itu menandakan bahwa ia adalah seorang pekerja keras di mata keluarganya. Pria kelahiran di daerah Tapa, tgl 21 Agustus 1990 ini adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di gorontalo yang sekarang telah beranjak ke semester 6. Setiap hari, pria yang sering disapa “Mail” ini harus membagi waktu kuliah nya dengan waktu kerja sampingan yang ia tekuni selama hampir beberapa bulan ini. hal tersebut tentunya harus kita patut contohi sebagai mahasiswa yang mandiri dan memiliki reponsibilitas yang tinggi demi membiayai keluarganya.

Kerja paruh waktu yang membuatnya harus berbagi waktu antara perkuliahan dengan pekerjaan itu tak membuatnya pantang menyerah, mengingta bahwa kesibukan yang akan dihadapinya nanti beberapa bulan kedepan semakin banyak. Apalagi, sekarang ini diperhadapkan dengan tugas proposal yang membutuhkan tidak sedikit waktu dalam mengerjakan hal tersebut. Karena harus menguras otak dan pikirannya dalam melaksanakan tugas yang syarat akan kelulusan mata kuliah yang bersangkutan.

“Hidup Adalah Perjuangan”, itulah motto dalam hidup mail yang sampai sekarang telah menjadi motivasi dia dalam berjuang melawan setiap tantangan-tantangan yang ada. Cita-cita nya yang ingin membahagiakan orang tuanya merupakan sebuah misi dalam hidupnya yang seakan tidak akan pernah lelah ia capai.

Saya mengenal mail sudah dari pertama masuk kampus, sejak itu kami berada dalam satu kelas yang sama dalam menimbah ilmu sejak semester I(satu) hingga sampai semester sekarang(semester VI) ini. dan semoga perjuangan kita dalam menggali ilmu pengetahuan ini akan menghasilkan  suatu kesuksesan yang bisa membanggakan bagi orang tua. Dia adalah sosok sahabat yang pekerja keras, tekun, dan ulet. Hal ini terbukti dengan adanya jalinan persahabatan yang baik antara satu dengan yang lainnya di dalam kelas kami tanpa adanya rasa dendam yang terselubung disetiap hati teman-teman terhadapnya

Dalam hal kegemaran, mail sendiri mengaku sangat fans dengan club sepakbola terkaya ke-3 di dunia yang berasal dari Spanyol yaitu Barcelona Fc. Bahkan, kecintaannya terhadap club catalan ini disalurkan lewat foto profil akun facebooknya saat ini. ^_^

Nah, sekian dulu kisah cerita tentang sahabat saya “Ismal Molamahu” dalam Aktivitasnya sehari-hari.ukuan besar

By : Fathan Husain

Tugas 6 “Novel”

 “Sosok Seorang Piko”

novrianti

Novriyanti Usman, dalam kehidupan sehari-hari di kenal dengan sebutan opi, gadis yang berumur 20 tahun lahir di Gorontalo tanggal 30 November tahun 1992. Opi, seorang gadis perempuan lulusan dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Gorontalo atau pada umumnya di sebut dengan SMK, angkatan 2010.

Opi, dikenal sebagai gadis yang baik hati, tidak sombong, respek terhadap teman, mudah bergaul, lucu dan mempunyai suatu kebiasaan buruk susah untuk bangun pagi dan di kenal pula sebagai gadis yang sangat loading. Mendengarkan musik, main game, itulah hobinya. Dia sangat menyukai dua warna, pink dan abu-abu.

Dalam hal mengenai teman, kepedulian saya terhadap teman bisa dikatakan sangatlah besar, tapi tidak untuk seorang teman yang egois. Egois merupakan sifat yang sangat tidak disukai banyak orang termasuk opi sendiri.

Gadis yang berumur 20 tahun ini adalah seorang mahasiswa akuntansi sektor publik di Universitas Negeri Gorontalo. Memiliki impian masa kecil, ingin menjadi seorang dosen. Tapi itu hanya merupakan impian masa kecil, tidak lagi untuk sekarang. Wisuda, bekerja dan menikah. Ini merupakan sebagian keinginan besar dalam hidupnya. Dia berkata sebelum sukses dia tidak ingin menikah.

Dalam hal asamara, saya tidak memiliki kriteria khusus. Hanya saja jika benar-benar merasa nyaman itulah yang menjadi pilihan saya, kata opi. Anak ke dua dari dua bersaudara ini mempunyai cinta pertama pada saat duduk di Sekolah Dasar. Tapi, saat ini dia memiliki seseorang yang telah bersamanya 1 tahun 4 bulan lamanya. Merupakan satu kebahagiaan tersendiri juga dalam hidupnya.

“Jalannya hidup tidak semulus yang kita pikirkan, dimana juga pasti memiliki pengalaman yang buruk. Saya mempunyai pengalaman yang sangat buruk dalam hidup saya, kehilangan seorang kakak, dia meninggal di hari dimana sehari sebelum hari ulang tahun saya, hari kebahagiaan saya. Tapi saya masih memiliki kedua orang tua yang sangat merasa kehilangan dalam situasi yang seperti ini”, ucap Novriyanti Usman.

Piko, nama kesayangan dari seorang ibu untuk anaknya. Orang tua merupakan motivator terbesar dalam hidupnya, tak punya alasan bahkan satu katapun untuk mengatakan saya tidak menyayangi orang tua saya. Khususnya buat ibu, beliau merupakan sosok yang terpenting dalam hidup saya walaupun sering kalinya ada perbedaan pendapat. Sangat mensyukuri saya bisa di titipkan kepada kedua orang tua sebaik ini, entah didikan luar biasa bagaimana hingga membuatnya bisa membuatku seperti ini. Inilah kata-kata dari seorang gadis yang memamerkan sosok seorang ibu.

“Saya pribadi, saya merasa belum menjadi pribadi yang lebih baik tapi saya berusaha untuk menjadi lebih baik. Untuk kedepan, kedepan, dan kedepannya lagi ingin menjadi sosok seorang anak yang baik, perempuan yang baik, sahabat yang baik, teman yang baik. Apapun itu, saya berusaha menjadi orang yang dapat dinilai positif dalam penilaian orang terutama untuk orang tua,” Kata dari Novriyanti Usman.

Inilah cerita singkat saya “sosok dari seorang piko”, yang berceritakan kehidupannya walaupun tidak sebanyak yang dijalaninya…………………!!!!

Penulis

Febriyanti Kantu

390127_373197849435418_2105672369_n